Korban Kekerasan Seksual di Cirebon Didominasi Pelajar SD dan SMP

Ahmad Rofahan    •    Selasa, 19 Dec 2017 19:36 WIB
kekerasan anak
Korban Kekerasan Seksual di Cirebon Didominasi Pelajar SD dan SMP
Ilustrasi. MTVN/M Rizal

Cirebon: Data mengenai catatan tahunan penanganan kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2017 yang disajikan oleh Women Crisis Center (WCC) Mawar Balqis amat miris. Kasus kekerasan seksual yang dilaporkan melalui WCC Mawar Balqis, Pihak Kepolisian dan P2TP2A, mendapat urutan yang pertimi.

Hingga November 2017 terdapat 140 kasus kekerasan terhadap perempuan. Kasus yang dialami cukup bervariasi, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual penelantaran, dan trafficking (perdagangan manusia). Dari jumlah 140 kasus, 85 diantaranya adalah kekerasan seksual.

"Tahun sebelumnya, KDRT yang paling tinggi. Tapi sekarang kekerasan seksual yang mendominasi,” ujar Direktur WCC Mawar Balqis Masrokhah di Hotel Bentani Cirebon, Selasa, 19 Desember 2017.

Pihaknya belum dapat memastikan tingginya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada tahun ini karena kesadaran untuk melaporkan kasus yang tinggi, atau memang karena kejadiannya mengalami peningkatan. Namun, kasus kekerasan seksual ini dipastikan banyak menyasar pelajar SD dan SMP.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh WCC Mawar Balqis, 42 kasus kekerasan seksual menyerang pelajar SD. Jumlah kasus yang sama juga terjadi untuk pelajar SMP.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon Asdullah Anwar mengaku sudah mengantisipasi tindakan asusila yang terjadi pada para pelajar. Salah satunya dengan menekankan pendidikan keagamaan yang lebih kuat di sekolah.

"Sudah kita terapkan. Misalnya, untuk membaca Alquran dan salat berjamaah di sekolah,” kata Asdullah di tempat yang sama.

Ia juga akan mempertimbangkan mengenai pelajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang materi pelajarannya, diajarkan mengenai baik dan buruknya penggunaan media saat ini. Tidak dipungkiri, penggunaan media yang salah menjadi salah satu penyebab adanya tindakan asusila.

"Kita coba pertimbangkan hal tersebut," kata Asdullah.


(SUR)