Cerita Nelayan Tegal di Musim Gelombang Tinggi

Kuntoro Tayubi    •    Jumat, 12 Jan 2018 18:17 WIB
nelayan
Cerita Nelayan Tegal di Musim Gelombang Tinggi
Sejumlah nelayan Tegal, Jawa Tengah, sedang memperbaiki alat tangkapnya (jaring) mengingat gelombang laut saat ini sedang tinggi. Foto: Medcom.id /Kuntoro Tayubi

Tegal: Januari merupakan bulan paceklik bagi para nelayan. Betapa tidak, mereka enggan melaut karena gelombang laut besar dan mengancam keselamatan.

Belum lama ini seorang nelayan asal Desa Suradadi, Kecamatan Suradadi, Tegal, tenggelam di laut karena perahunya terbalik dihantam gelombang. Nelayan hanya bisa berkeluh kesah karena hingga kini tak memiliki alat keselamatan yang mumpuni.

"Kita tidak punya alat pelindung. Kalau terjadi insiden (kapal terbalik), kita hanya menggunakan ban dalem bekas. Itu pun kalau punya, kalau gak punya, paling hanya berenang sampai ke tepi," tutur Sodikin, 55, salah satu nelayan pencari rajungan asal Desa Suradadi, Suradadi, Tegal, Jumat, 12 Januari 2018.

Kondisi laut Jawa saat ini belum bersahabat. Gelombang besar kerap terjadi dengan ketinggian di atas satu meter. Praktis, Sodikin memilih melego jangkarnya dan beraktifitas di rumah. Dia tidak berani jibaku menerjang badai hanya untuk mencari ikan di laut.   

"Daripada nyawa saya melayang, mending saya di rumah dulu sambil membetulkan alat tangkap (jaring)," kata bapak dari tiga anak ini.

Mengingat hal itu, nelayan berharap pemerintah memfasilitasi alat keselamatan.

Keterbatasan nelayan

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal dari Fraksi PDI Perjuangan Rustoyo membenarkan jika alat pelindung keselamatan nelayan sangat minim. Tak heran jiwa nelayan kerap jadi korban kecelakaan di laut karena tidak bisa menyelamatkan diri.

"Saat kapalnya tenggelam diterjang ombak, nelayan hanya bisa pasrah. Ini karena nelayan tidak memiliki alat penyelamat," kata Rustoyo.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tegal itu mengakui Pemkab Tegal telah memberikan alat keselamatan bagi nelayan Suradadi. Namun, banyak nelayan yang belum mendapatkan bantuan tersebut.

Padahal, nelayan sangat berisiko saat melaut karena kapal yang digunakan untuk mencari ikan hanya jenis jukung atau dogolan. Kapal kecil yang berpenumpang dua orang itu bisa terbalik saat ketinggian gelombang mencapai dua meter.

"Mereka tidak bisa meubah kapalnya menjadi lebih besar, karena tidak ada dermaga sandar yang memadai. Untuk itu, nelayan Suradadi bertahan dengan jenis perahu kecil," kata anggota DPRD asal Suradadi itu.

Dia mengemukan, nelayan adalah pahlawan gizi yang harus diperhatikan pemerintah. Pemkab diminta untuk memperhatikan nelayan secara maksimal. Selama ini, Pemkab dinilai belum kerja cerdas dan kerja tuntas. Artinya, Pemkab ingin nelayan Kabupaten Tegal sejahtera, harus dipersiapkan dermaga yang cukup, dan bantuan peralatan dipenuhi.

"Jika cuaca buruk, seharusnya pemerintah membuat peringatan dini, sehingga nelayan bisa tidak mengalami kecelakaan di laut," imbuhnya.

 


(SUR)