Taksi di Solo Memilih Berdamai dengan Transportasi Berbasis Aplikasi

Pythag Kurniati    •    Jumat, 17 Mar 2017 19:25 WIB
transportasi berbasis aplikasi
Taksi di Solo Memilih Berdamai dengan Transportasi Berbasis Aplikasi
Aplikasi Grab, Ant

Metrotvnews.com, Solo: Perusahaan transportasi PT Sekar Gelora Taksi yang membawahi armada Gelora Taksi di Kota Solo, Jawa Tengah, memilih berdamai dengan perusahaan aplikasi penyedia transportasi, Grab. Penjajakan kerja sama dilakukan memperluas pasar dan meningkatkan pelayanan transportasi pada masyarakat.

Direktur PT Sekar Gelora Meddy Sulistyanto mengoperasikan 239 mobil sebagai angkutan taksi. Saat ini, perusahaan tengah menguji coba penggunaan aplikasi Grab pada 70 mobil milik Gelora Taksi. 

Sebenarnya, kata meddy, Gelora Taksi juga mengoperasikan aplikasi bernama G-Line. Aplikasi diluncurkan pada Juni 2016.

"Meski bakal beroperasi dengan dua aplikasi, segmentasinya berbeda. Penggunaan G-Lone dikhususkan pada warga Solo. Sedangkan Grab dimanfaatkan warga dari luar kota," kata Meddy di Solo, Jumat 17 Maret 2017.

Meddy menjelaskan, penjajakan kerjasama dengan Grab sekaligus menunjukkan bahwa tidak semua sistem transportasi berbasis daring menyalahi aturan. 

“Grab hanya akan masuk dan bekerja sama dengan taksi pelat kuning di Solo. Itu sudah sesuai dengan regulasi,” paparnya

Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, taksi (kendaraan roda empat) masuk kategori kendaraan angkutan.

Sedangkan Peraturan Menteri Nomor 32 Tahun 2016 menyebutkan bahwa penyedia aplikasi berbasis Teknologi Informasi wajib bekerjasama dengan perusahaan angkutan umum yang telah memiliki izin angkutan. 

“Kami sudah sesuai peraturan. Kami dikategorikan angkutan dan merupakan perusahaan angkutan umum berizin angkutan,” jelasnya.

Grab Gaet Taksi Konvensional

Kerja sama serupa juga dilakukan Grab dengan perusahaan transportasi yang berada dalam naungan Organda DI Yogyakarta. Penjajakan dilakukan menjelang pemberlakuan Permenhub Nomor 32 Tahun 2016 pada 1 April mendatang.

Kabid Angkutan Darat Dishub DIY Harry Agus Triono menjelaskan usai peraturan diberlakukan, semua kendaraan umum harus berbadan hukum transportasi. 

"Grab, Uber dan Gojek yang  sekarang berbentuk perusahaan informasi harus bikin badan usaha transportasi. Atau kerjasama dengan perusahaan angkutan umum yang sudah ada. Di sini (Grab) sudah ada pendekatan ke beberapa perusahaan," ujar Harry.

Ketua Organda DIY Agus Andrianto membenarkan perusahan Grab sudah membicarakan kerja sama. Di antaranya membahas skema dan penetapan tarif.

"Mereka juga berencana menjaring taksi pelat kuning untuk masuk ke aplikasi mereka," ujar Agus.

Namun, ujar Agus. Organda masih menimbang kerja sama. Sebab belum ada formula sistem pengawasan dan monitoring operational Grab car. 

"Kami belum punya sistem atau akses untuk memantau mereka. Kalau mereka daftarin 100 driver ternyata yang beroperasi sebanyak 1.000 driver. Siapa yang akan memantau," kata Agus.


(RRN)