Angin Laso, 'Kengerian' yang Muncul di Perairan Karimunjawa

Rhobi Shani    •    Rabu, 30 Nov 2016 18:16 WIB
cuaca ekstrem
Angin Laso, 'Kengerian' yang Muncul di Perairan Karimunjawa
Senja di pantai Pulau Karimunjawa, MTVN - Rhobi Shani

Metrotvnews.com, Jepara: Melaut menjadi lahan pencaharian utama bagi ribuan warga Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. Saat cuaca buruk melanda perairan Karimunjawa, mereka pun was-was.

Karimunjawa merupakan kepulauan yang berlokasi di tengah-tengah Laut Jawa. Secara geografis, Karimunjawa berada di wilayah Pemerintah Kabupaten Jepara. Lokasinya berjarak kurang lebih 86,6 Km dari daratan Jepara.

Jumlah penduduk di Kepulauan Karimunjawa kurang lebih 10 ribu orang. Sekitar 80 persen penduduknya menggantungkan hidup dari laut.

Mereka mencari ikan dengan teknik memancing. Sementara sebagian warga menggunakan jaring dan alat tangkap lain.

Tomo mengaku mencari ikan hingga ke tengah laut yang berjarak 20 sampai dengan 30 mil dari Pulau Karimunjawa. Di lokasi itu, Tomo dan kawan-kawan bisa mendapatkan ikan laut berukuran cukup besar.


(Suasana di pasar ikan di Karimunjawa, Jepara, MTVN - Rhobi Shani)

"Misalnya tenggiri dan tongkol yang berada di laut dengan kedalaman kurang lebih 30 meter. Setelah hasil pancingan cukup, kami pulang," tutur Tomo kepada Metrotvnews.com di Karimunjawa, Rabu (30/11/2016).

Biasanya ia melaut pukul 03.00 WIB. Ia lalu kembali lagi ke daratan pukul 16.00 WIB.

Hasil tangkapan tak menentu. Bila beruntung, ia bisa membawa pulang 60 Kg ikan tenggiri. Ia menjual tenggiri dengan harga Rp35 ribu per Kg.

"Uang hasil penjualan ikan dibagi rata dengan pemilik kapal dan nelayan setelah dikurangi biaya operasional. Sekali berangkat untuk beli solar dan lainnya habis sekitar Rp300 ribu,” papar Tomo.

Bertahun-tahun jadi nelayan, Tomo mengaku masih terselip rasa takut. Angin laso, demikian Tomo menyebutkan alasan ketakutannya saat melaut.

Angin laso adalah puting beliung yang melanda laut. Tiupan angin mampu menenggelamkan kapal berukuran besar. Sayangnya, ujar Tomo, kehadiran angin laso tak dapat diprediksi.


(Cuaca mendung di perairan Karimunjawa, Jepara, MTVN - Rhobi Shani)

"Kalau ombak setinggi lima meter, nelayan masih bisa mencari celah untuk menyelamatkan diri. Tapi kalau angin laso, nelayan takut," ujar Tomo.

Tomo mengaku pengalaman mengajarkannya untuk mengenali tanda-tanda kedatangan angin laso. Yaitu muncul awan bertingkat di langit. Biasanya angin laso muncul saat musim angin barat.

Srianto, warga lain di Karimunjawa, menyebutkan pengakuan serupa. Faktor alam yang membuatnya ngeri saat berada di laut.

Menurut Srianto, perairan Karimunjawa cukup ramai dilintasi kapal. Sebab, jalur itu merupakan perlintasan pelayaran Jakarta-Surabaya dan Semarang-Kalimantan.

Sangat jarang ia mendengar peristiwa kapal bertabrakan di sekitar Karimunjawa. Yang penting, kata Srianto, nelayan tetap menyalakan lampu saat berada di laut. Dan, kapal nelayan tak berhenti di jalur kapal besar.

"Biasanya peristiwa tabrakan kapal terjadi karena kapal berhenti mati mesin di jalur pelayaran,” terang Srianto.


(RRN)