Sebagian Warga Yogya Bertaruh Nyawa Demi Pendidikan

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 15 Aug 2017 18:17 WIB
jembatan rusak
Sebagian Warga Yogya Bertaruh Nyawa Demi Pendidikan
Warga nekat melintas di jembatan gantung meski telah ada peringatan larangan. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Bantul: Anak-anak di Dusun Nambangan, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta harus bertaruh nyawa untuk bisa mengenyam pendidikan dalam beberapa tahun terakhir. Mereka harus menyeberangi jembatan gantung yang menghubungan tempat tinggalnya dengan Dusun Nangsri, Desa Srihardono, lokasi SMP dan SMA setempat.

Jembatan gantung yang berkomponen beton, besi, dan kayu itu melintang di atas Sungai Opak. Namun, kini kondisi jembatan cukup membahayakan. Besi penyangga di salah satu sudut sudah patah.

Pemerintah pun sudah menempel pengumuman larangan melintas. Namun, demi memangkas jarak, warga tetap nekat melintasi jempatan sepanjang  kurang lebih 20 meter dengan lebar 1,5 meter itu. Kendaraan harus bergantian melintas. 

Suara hasil gesekan kayu terdengar nyaring ketika kendaraan atau orang melintasi jembatan gantung itu. Padahal, bahaya sewaktu-waktu mengintai. Sebab, jarak jembatan dengan sungai di bawahnya sekitar 10 meter. Kondisi sungai sebagian terdiri dari bebatuan. 

Ari, 40, warga Dusun Nambangan, mengatakan jembatan itu memang menjadi penghubung paling dekat antara Dusun Nambangan dengan Dusun Nangsri. Semula, jembatan tersebut terdiri dari beton dan dibangun pada 2006.


Warga mengantre untuk melintasi jembatan gantung yang rusak. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Ketika Gunung Merapi erupsi pada 2010, arus banjir besar yang melintas Sungai Opak ikut menghancurkan bangunan beton jembatan. "Lalu pemerintah menggantinya menjadi jembatan gantung pada 2010 itu," ujarnya saat ditemui di Dusun Nambangan pada Selasa, 15 Agustus 2017. 

Enam tahun berselang, salah satu besi penyangga patah akibat terjangan banjir. Sejak itu, papan petunjuk bahaya terpasang. "Peringatan! Jembatan Rusak, Dilarang melintas," demikian bunyi peringatan itu. 

Meski begitu, warga tetap nekat, ketimbang memutar lewat jalan lain. Jika harus melewati jalur lain, yakni jembatan di Dusun Suko, harus menempuh jarak lima kilo meter. "Sekitar 15 menitlah kalau lewat Dusun Suko," ucap Ari. 

Sakijan, yang juga warga setempat mengutarakan jembatan gantung itu merupakan akses warga satu-satunya yang paling dekat, termasuk untuk ibu-ibu yang mengantar anaknya ke sekolah. Bahkan, saat sedang ada Pasar Wage, antrean warga yang hendak melintas jembatan bisa mengular hingga 50 meter.

"Tapi kalau sedang banjir tidak ada orang yang berani lewat," ucapnya.  

Menurut dia, sejumlah warga juga sudah berupaya melaporkan kondisi jembatan ke pemerintah setempat. Bahkan, beberapa kali sudah ada pejabat datang melihat kondisi jembatan itu. "Tapi belum ada perbaikan sampai sekarang. Harapannya segera ada perbaikan," ujar Sakijan.


(SAN)