Undip Beri Perlakuan Sama pada Mahasiswa Difabel

Mustholih    •    Selasa, 16 May 2017 16:23 WIB
sbmptnujian sbmptn
Undip Beri Perlakuan Sama pada Mahasiswa Difabel
Rektor Undip dan salah satu peserta SBMPTN berkebutuhan khusus, Magfira Liza Elfira. (Metrotvnews.com/dok Undip)

Metrotvnews.com, Semarang: Ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) 2017 yang digelar di Kampus Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, turut diikuti dua peserta berkebutuhan khusus. Rektor Undip, Yos Johan Utama, menyempatkan diri mengajak komunikasi dengan salah satu peserta tersebut beberapa saat sebelum ujian dimulai.

"Tadi ada penjelasan, dia tidak bisa mendengar, tunarungu, difable. Kita bantu karena ada (ujian) yang bentuknya tertulis," kata Yos Johan saat berkeliling mengunjungi pelaksanaan kegiatan SBMPTN di Kampus Undip, Semarang, Jawa Tengah, 16 April 2017.

Kedua peserta berkebutuhan khusus ini bernama Astari Nuriadini dan Magfira Liza Elvira. Mereka memiliki kendala dalam indra pendengaran. Astari mengikuti ujian SBMPTN di ruang Fakultas Kedokteran sementara Magfira di ruang Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Peserta SBMPTN berkebutuhan khusus yang pertama dikunjungi Yos Johan bernama Magfira. Sepintas, Magfira terlihat sama dengan peserta ujian yang lain.

Keistimewaan Magfira baru terlihat manakala Yos Johan mengajak bicara dengan bahasa isyarat. Magfira pun menjawab segala pertanyaan Yos Johan dengan menggunakan bahasa isyarat pula. "Tadi saya tanya apakah bisa menangkap, dia jawab cukup jelas," ujar Yos Johan seraya menambahkan bahwa Magfira merupakan lulusan SMA Sutan Agung I Semarang.

Usai berbicara dengan Magfira, Yos Johan segera bertolak ke Gedung Fakultas Kedokteran di mana Astari Nuriadini ikut tes seleksi. Saat berkeliling melakukan tinjauan, Yos Johan sempat melihat-lihat secara keseluruhan jalannya SBMPTN di Undip.

"Mudah-mudahan semua lancar tidak ada halangan," kata Ketua Panitia Lokal 42 Semarang SBMPTN tersebut.

Khusus untuk peserta berkebutuhan khusus, Yos Johan mengaku belum mengetahui fakultas dan jurusan mana yang dibidik mereka untuk melanjutkan studi. Namun, apabila keduanya diterima di Kampus Undip, Yos Johan menjamin mereka bakal diperlakukan sama dengan mahasiswa-mahasiswa lain.

"Akan diperlakukan sama. Kalau diperlakukan khusus nanti tidak bisa sosialisasi, membaur. Nanti akan merasa sendiri," ujar Yos Johan.

Lagi pula, kata Yos Johan, Kampus Undip cukup teruji dalam kegiatan belajar mengajar yang diikuti mahasiswa difable. "Kalau lolos, ya, diterima sepanjang bidang yang diterima itu tidak terhambat oleh kedifabelan. Kalau bidang sosial semua bisa masuk. Kalau buta warna total itu tidak boleh ke kimia atau kedokteran karena tidak bisa membedakan warna," jelas Yos Johan.


(SAN)