84 Kebakaran Terjadi di Tegal Sepanjang 2017

Kuntoro Tayubi    •    Jumat, 22 Sep 2017 17:18 WIB
kebakaran
84 Kebakaran Terjadi di Tegal Sepanjang 2017
Dua rumah di Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dilalap si jago merah -- MTVN/Kuntoro Tayubi

Metrotvnews.com, Tegal: Sejak awal Januari hingga pertengahan September 2017, terjadi 84 kebakaran di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Meski tidak ada korban jiwa, tapi kerugian para korban mencapai miliaran rupiah.

Kepala Satpol PP Kabupaten Tegal Berlian Adjie mengatakan, kebakaran terbesar dialami pemilik pabrik penyulingan cengkeh di Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Tegal. "Pemilik pabrik itu mengalami kerugian hingga Rp350 juta. Kejadiannya (kebakaran) belum lama ini," kata dia Jumat 22 September 2017.

Kabid Linmas dan Pemadam Kebakaran Kusnadi menambahkan, kebakaran mayoritas terjadi di wilayah atas atau sekitar Kecamatan Bumijawa dan Bojong. Beberapa wilayah di pantura Kabupaten Tegal juga kerap mengalami peristiwa serupa, antara lain Kecamatan Warureja, Suradadi, dan Kecamatan Kramat.

Biasanya, lanjut Kusnadi, kebakaran dipicu korsleting listrik atau kompor gas. "Kerugian korban cukup besar. Kalau ditotal, bisa lebih dari Rp1 miliar," ujarnya.

Menurut Kusnadi, tidak hanya rumah penduduk dan gudang yang terbakar, tapi juga lahan kosong dan tebu. Terakhir, lahan kosong di wilayah Kramat dan Dukuhturi.

Beruntung, kala itu warga segera menghubungi petugas damkar, sehingga api yang sudah membesar berhasil dijinakkan. "Kalau tidak secepatnya dipadamkan, bisa merembet ke pemukiman warga," ucapnya.

Kusnandi menambahkan, saat ini bidang Damkar yang di bawah naungan Satpol PP hanya memiliki lima unit kendaraan pemadam kebakaran. Kelima unit itu dipisah di tempat yang berbeda.

Dua diantaranya disiagakan di Slawi. Sedangkan, lainnya tersebar di Kecamatan Adiwerna, Kramat, dan Kecamatan Bojong.

"Idealnya, setiap kecamatan memiliki satu unit mobil damkar. Sehingga, bisa langsung ditangani ketika ada kebakaran," katanya.

Selain armada yang minim, lanjut Kusnadi, jumlah personel juga tidak sesuai dengan kebutuhan. Jumlah personel saat ini hanya 43 orang, sedangkan yang dibutuhkan 90 orang.

"Kami akan memaksimalkan kondisi yang ada. Tapi jika ada pengadaan atau penambahan kendaraan dan personel, kami sangat berterimakasih," tutupnya.


(NIN)