Warga Gunungkidul: Mau tak Mau Beli Air Bersih

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 02 Nov 2018 18:01 WIB
kemarau dan kekeringan
Warga Gunungkidul: <i>Mau tak Mau</i> Beli Air Bersih
Ilustrasi kekeringan, Medcom.id - M Rizal

Gunungkidul: Kekeringan dan kemarau kerap terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Warga pun sudah terbiasa untuk membeli air bila kekeringan melanda.

Kemarau selama sembilan bulan pada 2018, mengakibatkan ratusan ribu warga Gunungkidul kesulitan mendapatkan air bersih. Sementara anggaran untuk bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul sudah habis.

Sutarjo, warga Dusun Baran, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul, mengatakan hujan tak turun sejak Juni 2018. Warga yang mengandalkan PDAM sulit mendapatkan air.

"Bila begitu sulit, mau tak mau kami harus beli," ungkap Sutarjo kepada Medcom.id, Jumat, 2 November 2018.

Sutarjo membeli air yang diambil dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. diambil dari Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Selama kemarau di 2018, ia mengaku telah mengeluarkan uang sekitar Rp800 ribu untuk membeli air.

Ia menggunakan air untuk kebutuhan rumah tangga dan ternak. Ia juga berusaha untuk mempertahankan ternaknya. Sebab beberapa warga telah menjual ternak lalu menggunakan uang untuk membeli air.

Suwarno, salah satu warga, yang menjual kambingnya. Ia mengaku telah membeli 20 tangki air bersih. Harga pertangki kurang lebih Rp110 ribu.

"Sudah sejak bulan Juli ya beli air bersih. Ya semoga segera hujan. Kan, tahun lalu akhir bulan Oktober sudah hujan juga," ungkap Suwarno.

Di Gunungkidul, sebanyak 132.491 jiwa terkena dampak kekeringan. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul belum memutuskan langkah jangka panjang untuk menangani kekeringan yang terjadi saban tahun. 

Teranyar, BPBD Gunungkidul telah mengajukan surat penetapan status darurat kekeringan kepada bupati setempat. Selain itu, BPBD juga mengajukan penambahan anggaran Rp80 juta dari dana tak terduga untuk penanganan kekeringan hingga dua pekan ke depan.



(RRN)