Menkominfo Canangkan Gerakan Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas

Pythag Kurniati    •    Selasa, 07 Aug 2018 11:24 WIB
menkominfo
Menkominfo Canangkan Gerakan Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas
Menkominfo Rudiantara dalam Deklarasi Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas di Kota Solo, Senin, 6 Agustus 2018. Medcom.id/ Pythag Kurniati.

Solo: Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mencanangkan Gerakan Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas. Pencanangan dilakukan langsung oleh Menkominfo Rudiantara di Monumen Pers, Kota Solo, Jawa Tengah.

Rudiantara mengatakan, Indonesia memasuki tahun politik. Sehingga media massa yang profesional dibutuhkan untuk memberitakan informasi yang seimbang.

"Media harus menjaga martabat dan tanggung jawab untuk menciptakan suasana kondusif, khususnya menyongsong Pemilu 2019," kata Rudiantara, Senin malam, 6 Agustus 2018.

Menurut Rudiantara, media yang profesional adalah media yang netral, proporsional, menyuarakan kebenaran, serta berpihak pada masyarakat dan bangsa. Pers harus mampu menjalankan peran dengan landasan independensi dalam perhelatan Pemilu 2019 nanti.

Media massa semestinya juga menjadi solusi bagi anomali demokrasi seperti ketimpangan sosial, korupsi dan kemiskinan. Kemudian pers juga diharapkan mampu mengatasi anomali pemilu, misalnya intoleransi, politik uang dan perpecahan masyarakat.

Rudiantara meminta pers menjadi bagian dari perekat keutuhan bangsa dan penjaga keutuhan nasional. "Sejalan dengan konteks Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. Seutuhnya menjaga NKRI kondusif," jelas Rudiantara.

Pencanangan Gerakan Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas juga dihadiri oleh sejumlah tokoh. Seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Mantan Ketua Dewan Pers Baghir Manan, dan sejumlah tokoh lainnya.

Pencanangan juga dilakukan bersama pemimpin redaksi media di wilayah Yogyakarta, Solo dan Semarang, pemda, asosiasi media, Bawaslu, KPU, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat.

Media Massa Jangan Mengekor Medsos

Rudiantara meminta media massa tidak mengekor media sosial (medsos). Informasi yang tersebar di media massa belum bisa dipastikan kebenarannya.

"Kadang yang terjadi media mainstream mengambil dari medsos karena ingin cepat. Ini yang harus diakhiri," tegas Rudiantara.

Menurut Rudiantara, medsos pada umumnya tidak pernah melakukan konfirmasi. Sehingga apa yang diinformasikan tidak berimbang. "Biasanya dari satu sumber lalu main lempar saja," pungkas Rudiantara.


(DEN)