Sekaten, Cara Keraton Ajak Rakyat Peluk Islam

Pythag Kurniati    •    Senin, 21 Nov 2016 12:42 WIB
keraton
Sekaten, Cara Keraton Ajak Rakyat Peluk Islam
Sejumlah abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta menabuh gamelan Kyai Guntur Sari di halaman Masjid Agung Surakarta, Jateng. (Ant/Hasan Sakri Ghozali)

Metrotvnews.com, Solo: Memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal atau Mulud dalam kalender Jawa, Keraton Kasunanan Solo menggelar perayaan sekaten.

Perayaan tersebut biasanya tak lepas dari keramaian dan pasar malam yang digelar selama satu bulan. Namun, perayaan sekaten tahun ini hanya akan digelar selama 17 hari.

“Karena situasi dan kondisi alun-alun yang masih digunakan pedagang Pasar Klewer pasca-kebakaran maka pasar malam Sekaten tahun ini baru akan dimulai 1 Desember 2016,” kata Wakil Pengageng Sasana Wilapa Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Winarno Kusuma saat ditemui di Keraton Kasunanan Solo, Senin (21/11/2016). 

Pertimbangannya, pihak Keraton Kasunanan harus mencari lokasi yang paling tepat untuk menempatkan para pedagang musiman saat sekaten. “Kami belum ada rencana untuk meminjam Benteng Vastenburg seperti tahun lalu. Sebagai gantinya pedagang dapat berjualan di kanan kiri jalan dan sisi selatan alun-alun utara.

Baca: Perayaan Sekaten Yogyakarta Resmi Dibuka

Sedangkan untuk pedagang makanan dan barang khas sekaten akan ditempatkan di Masjid Agung Solo. “Seperti misalnya telor asin, pecut, nasi liwet dan kinang,” kata dia. 

Meski waktu perayaan pasar malam dirampingkan, Winarno Kusumo menekankan upacara-upacara adat dipastikan akan digelar secara utuh. Tanggal 5 Desember 2016 atau 5 Rabiul Awal, Gamelan Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu mulai ditempatkan di Masjid Agung.

“Gamelan itu akan dibunyikan pertama kali pada 5 Desember hingga 11 Desember 2016. Penabuhnya akan menabuh gendhing khusus yakni Rambu dan Rangkung,” ujarnya.

Puncak acara Sekaten, lanjutnya, jatuh pada 12 Desember 2016. Dua gunungan akan dikirab dan diperebutkan masyarakat.

Pesan kedamaian

KPA Winarno Kusumo menyampaikan, bahwa Sekaten tahun ini membawa pesan kedamaian. Hal tersebut, kata dia, digambarkan dari kebersamaan seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lainnya.

“Masyarakat itu majemuk. Dan tidak ada larangan bagi orang tertentu untuk ikut merayakan sekaten. Semua orang pun bahkan boleh berebut gunungan saat Grebeg Mulud,” kata dia.

Sekaten bermula dari tradisi keraton mengajak rakyat memeluk agama Islam. Pendekatan budaya dinilai lebih mengena di rakyat yang kala itu banyak memeluk kepercayaan lain. Selain pertunjukan, sekaten beragenda utama syiar Islam di Masjid Keraton.



Kata sekaten berasal dari syahadatain, artinya 'dua kalimat syahadat'. Kala itu, masyarakat boleh menyaksikan pertunjukan gamelan dengan syarat mengucapkan syahadatain.

Melalui perayaan Sekaten, Winarno Kusumo berharap masyarakat memegang teguh agama namun tidak melepaskan nilai budaya. “Jangan beragama tanpa budaya, maupun sebaliknya,” tutup dia.


(SAN)