Badai Cempaka Diduga Dalang Tingginya Leptospirosis di Bantul

Patricia Vicka    •    Selasa, 27 Mar 2018 10:36 WIB
penyakit
Badai Cempaka Diduga Dalang Tingginya Leptospirosis di Bantul
Ilustrasi kesehatan. Medcom.id/M Rizal

Yogyakarta: Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, paling rawan perkembangan penyakit leptospirosis, atau leptospirosis, di 2018. Banjir besar akibat Siklon Tropis Cempaka menjadi penyebab tingginya persebaran penyakit infeksi akut akibat bakteri Leptospira sp.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DI Yogkarta Setyarini Restu Lestari menjelaskan, 27 warga Bantul diduga terjangkit lepto di awal 2018. Enam di antaranya meninggal dunia. Hasil penelitian menyimpulkan satu warga yang meninggal positif leptospirosis.

"Badai kemarin kemungkinan memengaruhi persebaran penyakit ini. Karena kemarin banyak banjir, tikus jadi banyak. Lalu bisa saja air kencing dan kotoran tikus menginfeksi warga melalui luka," ujar Rini, Senin, 26 Maret 2018.

Dugaan ini pun semakin diperkuat dengan kenyataan di lapangan di mana terduga penderita leptospirosis tersebar luas di 14 Kecamatan dan 27 desa di Kabupaten Bantul. Seluruh penderita baik yang masih hidup atau meninggal sebagian besar petani dengan usia di atas 50 tahun.

Dinkes DIY masih melakukan penelitian penyebab tingginya penderita leptospirosis di bantul. Sampel penyakit sudah dikirim ke balai penelitian pencegahan penyakit bersumber binatang.

"Masih kami teliti faktornya kenapa bisa tinggi. Padahal tahun lalu penyebarannya yang tinggi ada di Gunungkidul," katanya.

Rini menjelaskan usia produktif paling rentan terjangkit penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira ini. Demi menekan persebaran virus ini, Dinkes DIY mengingatkan masyarakat untuk menjalankan pola hidup bersih sehat (PHBS).

Petani diimbau untuk selalu memakai alas kaki saat pergi ke sawah dan rajin mencuci tangan dan kaki usai bercocok tanam di sawah dan sebelum makan.

"Kami juga menyosialisasikan ke masyarakat yang punya luka supaya menghindari genangan air dan rajin cuci kaki tangan sebelum makan,"pungkasnya.

Sepanjang awal 2018, Sebanyak 50 warga Daerah Istimewa Yogyakarta diduga terjangkit leptospirosis. Sebanyak 13 warga meninggal dunia, dan satu orang dinyatakan positif terjangkit leptospirosis.


(SUR)