Tanggap Darurat Banjir Rob Pekalongan Hingga Januari 2018

Kuntoro Tayubi    •    Senin, 11 Dec 2017 08:28 WIB
banjirbencana banjir
Tanggap Darurat Banjir Rob Pekalongan Hingga Januari 2018
Banjir rob menggenangii pemukiman warga Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Foto: Medcom.id /Kuntoro Tayubi

Pekalongan: Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menetapkan status tanggap darurat bencana banjir di wilayah Kecamatan Tirto selama 62 hari. Status tanggap darurat terhitung mulai berlaku sejak 1 Desember 2017 hingga 31 Januari 2018.

“Pertimbangannya, pada saat tanggal 1 Desember lalu, wilayah Tirto diterjang banjir yang luar biasa akibat badai siklon cempaka, dan hingga saat ini belum surut. Diperkirakan banjir bertahan hingga bulan Februari,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko, Senin, 11 Desember 2017.

Banjir rob yang terjadi di Kecamatan Tirto disebabkan hujan lebat dan gelombang laut yang tinggi. Sementara tanggul penahan air rendah, sehingga tanggul jebol dan air limpas melebihi tanggul.

“Karena limpasan air laut tersebut, tiga desa di Kecamatan Tirto, yakni Tegaldowo, Mulyorejo dan Jeruksari, tergenang banjir dengan ketinggian antara 30-70 cm,” tambahnya.


Tanggul tak mampu menahan air laut dan menyebabkan pemukiman warga Kota Pekalongan, Jawa Tengah, diterjang banjir rob. Foto: Medcom.id /Kuntoro Tayubi


Data dari BPBD Kabupaten Pekalongan, setidaknya ada empat tanggul yang mengalami kerusakan akibat banjir yang pada 1 Desember 2017. Di antaranya tanggul yang berada di sebelah jembatan Sungai Betingan, tanggul limpas sepanjang 90 meter. Akibatnya, banjir menerjang enam RW dan 19 RT di Dukuh Gejlik, Cokrah, Sibakung dan Kranding.

Dua tanggul yang berada di Jalan Tunggak Nongko, masing-masing mengalami kerusakan dan limpas sepanjang 88 meter dan 90 meter. Yang menyebabkan banjir di tiga RT di Jeruksari, Tegal Dowo dan Desa Pabean, Kota Pekalongan.

“Kemudian tanggul Pintu Loro, yang merupakan pertemuan antara Sungai Meduri dan Sungai Bremi, rusak dan limpas sepanjang 300 meter,” paparnya.

Taksiran kerugian

Akibat jebolnya empat tanggul tersebut, kerugian ditaksir mencapai Rp200 juta lebih. Menurut Bambang RAB penanganan segera untuk pekerjaan, perbaikan dan peninggian tanggul darurat mencapai Rp433 juta lebih.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu, 10 Desember kemarin, mengucurkan anggaran sebesar Rp 250 juta untuk penanganan darurat pasca banjir rob di wilayah Kecamatan Tirto, 1 Desember lalu.

Kasubdit Pemantauan dan Pelaporan BNPB, Lukman Hakim mengatakan, kucuran dana tersebut untuk membantu pertolongan penyelamatan dan evakuasi terhadap lokasi terdampak banjir rob di Kecamatan Tirto, sebagai lokasi yang paling parah.

(Klik: Kerugian Banjir Pekalongan Capai Rp1,4 Miliar)

“Dari sekian respon, Kabupaten Pekalongan memang agak terlambat. Seminggu kami baru menyikapi. Sehingga baru sekarang kami bisa sampaikan, meski jumlahnya tidak begitu banyak,” ungkapnya.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi menegaskan bahwa kegiatan penanganan bencana di Kabupaten Pekalongan merupakan masalah serius yang ditangani oleh pemerintah daerah. Sehingga menjadi perhatian utama.

Dalam pekan ini, akan dilakukan MoU untuk penanganan banjir rob yang sudah bertahun-tahun terjadi, menggunakan anggaran pusat, APBN senilai Rp500 miliar lebih, dalam waktu tiga tahun, dan pembuatan tanggul raksasa sepanjang 6 kilometer, dari sungai Sragi lama, sampai Bandengan.

"Saya berterima kasih kepada lurah dan warga yang sudah sabar menghadapi masalah ini, mudah-mudahan nanti warga juga memberikan dukungan penuh untuk pelaksanaan penanganan rob. Kemudian menjadikan Kabupaten Pekalongan bebas dari rob," jelas Asip.

(Baca: Siswa di Pekalongan Menembus Rob Demi UN)

 


(SUR)