'Masih Sakit kalau Ingat Pembunuhan Mas Udin'

Ahmad Mustaqim    •    Rabu, 16 Aug 2017 18:51 WIB
kasus udin
'Masih Sakit kalau Ingat Pembunuhan Mas Udin'
Marsiyem, istri almarhum wartawan Udin saat menabur bunga di atas pusara suaminya. (Foto-foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Puluhan jurnalis dan elemen masyarakat sipil berkumpul di sebuah pusara di Dusun Gedongan, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Yogyakarta pada Rabu, 16 Agustus 2017. Pusara itu merupakan makam almarhum wartawan Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin. 

Mereka melakukan ziarah tepat di 21 tahun terbunuhnya Udin, panggilan Fuad Muhammad Syafruddin. Dua dekade kasus ini belum menemukan titik terang.

Marsiyem, istri Udin, merasa masih sakit jika ingat peristiwa pembunuhan yang terjadi 14 Agustus 1996 itu. Dua hari berselang, Udin meninggal akibat pukulan benda tumpul di bagian kepalanya.

Udin diduga dibunuh karena getol menulis dugaan tindakan korupsi yang terjadi di Pemerintah Kabupaten Bantul, saat itu. Keluarga masih menaruh harapan agar aparat mengungkap kasus tersebut. 

"Rasanya masih sakit kalau mengingat peristiwa (pembunuhan) mas Udin," kata Marsiyem, menahan sesak tangis. 

Kalangan jurnalis dan pegiat hak asasi manusia selama ini tak henti menuntut aparat menuntaskan kasus itu. Termasuk kelompok Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Sejak beberapa tahun terakhir, AJI terus menggelar aksi diam menuntut aparat menuntaskan kasus pembunuhan Udin setiap tanggal 16. 


Aksi diam oleh 16 jurnalis di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Sejauh ini, aparat pernah memproses hukum terduga pelaku pembunuhan bernama Dwi Sumaji alias Iwik. Namun, tuduhan polisi tak terbukti di pengadilan. 

"AJI Indonesia terus mengupayakan agar kasus pembunuhan ini terungkap. Pembunuhan Udin merupakan pembungkaman hak informasi atas masyarakat," kata anggota Majelis Etik AJI Indonesia, Bambang Muryanto. 

Anggota tim ahli Bupati Bantul, Tri Suparyanto, mengatakan, wartawan Udin bukan hanya milik Harian Bernas. Namun juga milik nasional dan bahkan dunia. Mantan wartawan Harian Bernas itu menilai,  hingga saat ini jurnalis belum merdeka karena kasus pembunuhan Udin belum tuntas. 

"Jika ada sebagian wartawan tak peduli, namun masih banyak wartawan di AJI dan elemen masyarakat sipil dan peduli dengan kasus ini," kata Tri. 

Sekretaris AJI Yogyakarta, Bhekti Suryani menambahkan, pihaknya juga menggelar aksi diam 16 di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Beberapa hari ke depan, kata Bhekti, juga akan dilaksanakan sebuah seminar yang membahas kelanjutan kasus pembunuhan wartawan Udin. 
(SAN)