Dituding Biang Pencemaran Sungai, Perajin Tahu Buang Limbah ke Sawah

Rhobi Shani    •    Rabu, 30 Aug 2017 14:59 WIB
lingkunganpencemaran sungai
Dituding Biang Pencemaran Sungai, Perajin Tahu Buang Limbah ke Sawah
Air Sungai Gede berubah warna menjadi hitam. (Metrotvnews.com/Rhobi Shani)

Metrotvnews.com, Jepara: Perajin tahu tempe di Desa Pecangaan Wetan Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kini memilih membuang limbah ke sawah. Pasalnya, limbah usaha pembuatan tahu dan tempe itu dituding jadi biang pencemaran sungai Gede, Desa Karangrandu. Selain itu,  untuk menghindari potensi konflik dengan warga yang berada di sekitar bantaran sungai.
 
Pengusaha pembuatan tahu tempe Ahmad Maryanto mengatakan, saat ini limbah hasil tempat usahanya dibuang ke area persawahan. Langkah ini merupakan inisiatifnya sendiri. Pasalnya, dia menerima keluhan warga yang tinggal di bantaran sungai berkait bau yang dihasilkan dari limbah tempat usahanya.
 
“Baru beberapa hari ini (limbah) saya bawa ke sawah milik ayah saya sendiri,” ujar Maryanto, Rabu 30 Agustus 2017.
 
Maryanto bilang, pembuangan limbah tahu tempe ke aliran sungai sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir. Hal itu tak menjadi masalah saat musim hujan tiba. Sebab, derasnya aliran air sungai langsung membawa limbah. Tapi, jika musim kemarau seperti saat ini menjadi masalah tersendiri. Pasalnya, debit air sungai kecil sehingga limbah tidak mengalir dan mengeluarkan aroma tak sedap.
 
“Tapi sekarang saya buang ke sawah dengan cara diangkut menggunakan truk atau mobil bak terbuka,” kata Maryanto.

Baca: Dinas Lingkungan Hidup Jepara Nyatakan Sungai Gede Tercemar

Maryanto meyakini, limbah tahu tempe yang dibuang sawah tak berdampak buruk bagi tanaman. Pasalnya, limbah yang dihasilkan termasuk limbah organik.
 
“Pak Petinggi (kepala desa) juga minta dibuang ke sawahnya, tapi sementara saya buang di sawah saya sendiri,” ungkap Maryanto.
 
Setiap hari, Maryanto bilang, tempat usahanya mampu memproduksi tahu tempe sebanyak 2 ton. Dari jumlah itu, limbah yang dihasilkan mencapai 15 tong besar. 
 
“Harapan saya ada solusi dan bantuan dari pemerintah. Ya, seperti mobil tangki untuk mengangkut limbah untuk dibuang,” pungkas Maryanto.




(ALB)