Mahasiswa UGM Diperkosa Teman KKN

Ahmad Mustaqim    •    Kamis, 08 Nov 2018 16:45 WIB
pemerkosaan
Mahasiswa UGM Diperkosa Teman KKN
Gerbang Kampus UGM. Medcom.id/Mustaqim

Yogyakarta: Seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berinisial AN jadi korban pemerkosaan di lokasi kuliah kerja nyata (KKN) pada 2017 lalu. Kasus itu terungkap dalam laporan Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung UGM.
 
Dalam laporan itu, AN diperkosa temannya berinisial HS di pondok tempat menginap lokasi KKN di luar pulau Jawa. Peristiwa itu terjadi saat keduanya hanya tinggal berdua di pondok.
 
Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani tak menampik peristiwa itu. Ia mengatakan, kampus langsung menarik mahasiswa yang bersangkutan tak lama usai kasus itu terjadi.
 
"Kami sampaikan rasa empati (kepada korban). Kami menarik pelaku (HS) dari lokasi KKN saat itu. Yang melakukan kesalahan diberikan sanksi ringan hingga berat," ujar Iva di Yogyakarta pada Kamis 8 November 2018.
 
Ia mengatakan, otoritas UGM membentuk tim independen yang berisi tiga dosen lintas fakultas untuk investigasi kasus itu. Investigasi tersebut untuk memecahkan permasalahan dan memberikan pendampingan terhadap korban.
 
"Kita akan mengusahakan agar penyintas (AN) mendapatkan rasa keadilan dan benar-benar bisa membuat merasa nyaman," ujarnya.
 
Pelaku harus Ditindak Tegas
 
Kasus pemerkosaan HS terhadap AN mendapat perhatian civitas akademika UGM. Puluhan mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UGM menggelar aksi dukungan kepada AN, pada Kamis, 8 November 2018. Mahasiswa hingga sejumlah dosen membubuhkan tanda tangan serta nomor mahasiswa atau nomor pegawai di sebuah kain putih.
 
Nadine Kusuma, 20, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UGM, mengatakan memberikan dukungan kepada AN. Ia menilai otoritas UGM lamban dalam penyelesaian kasus itu.
 
"Jadi tuntutannya adalah diturunkannya sanksi kepada pelaku sesegera mungkin, terutama terkait yang (pelaku akan) wisuda itu," ujarnya.

Seorang mahasiswa FISIP UGM, Sandi Perdana mengatakan kasus tersebut cukup mengguncang institusi pendidikan. Ia menduga, kasus demikian tak hanya menimpa pada AN.
 
Sandi mengungkapkan kasus yang menimpa AN seperti puncak gunung es yang baru mulai. "Ketika kampus lain tidak ada kasus kayak gini, bukan berarti enggak ada, pasti ada. Saya yakin dan ini bukan fenomena yang cuma hari ini doang," ucapnya.
 
Menurut dia, perguruan tinggi semestinya perlu menciptakan ekosistem yang bisa mendukung pihak otoritas bisa tegas mengambil kebijakan. Ia menilai ketegasan itu jarang ditemui di kebanyakan perguruan tinggi.
 
"Tentu saya sedih dan marah atas kasus semacam ini. Kami melakukan aksi untuk menegaskan ini bukan cuma kasus di UGM, tapi ini masalah bersama agar segera mencari jalan keluar," ungkapnya.
 
Dekan FISIP UGM, Erwan Agus Purwanto menuntut rektorat segera menerapkan hasil rekomendasi tim investigasi yang sudah disampaikan bulan Juni 2018. Sejumlah isi rekomendasi itu yakni pembatalan KKN pelaku, penundaan nilai KKN pelaku, dan memberikan konseling pelaku di Fakultas Psikologi UGM.
 
"Kami sudah berkirim surat kepada UGM agar segera mengambil sikap. Kami mengajak semua mengawal bersama agar kasus ini segera dituntaskan universitas seadil-adilnya dengan berpihak kepada korban," ujarnya.
 
Ia menambahkan, tim psikologi dari FISIP UGM juga memberikan pendampingan kepada AN. Ia berharap pendampingan yang diberikan bisa membantunya AN menyelesaikan studinya hingga tuntas.
 
"Saya paham jika penyintas tidak puas seperti diperlakukan tidak adil. Kami mengingatkan pihak kampus menjalankan rekomendasi dengan segera" ungkapnya.


(ALB)