Warga Diminta Tidak Mudah Termakan Hoaks Informasi Gunung Merapi

Ahmad Mustaqim    •    Kamis, 27 Dec 2018 14:56 WIB
gunung merapi
Warga Diminta Tidak Mudah Termakan Hoaks Informasi Gunung Merapi
Asap solfatara keluar dari kubah lava Gunung Merapi terlihat dari Balerante, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (29/11/2018). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah.

Yogyakarta: Guguran kubah lava di puncak Gunung Merapi terjadi hampir setiap hari. Jarak luncuran guguran kubah lava tersebut sekitar 300 meter hingga satu kilometer. 

Guguran berupa lava pijar terjadi pada Selasa, 25 Desember 2018, sekitar pukul 21.39 WIB. Guguran yang terjadi arah ke hulu Kali Gendol ini meluncur hingga 300 meter. Situasi hampir serupa terjadi pada Kamis dini hari, 27 Desember 2018, pukul 02.50 WIB. Guguran Lava pijar terpantau oleh kamera pengawas di puncak Gunung Merapi di lokasi yang sama.

Jarak luncuran diperkirakan sekitar 300 meter. Pagi tadi, sekitar pukul 8.45 WIB, guguran kubah lava juga terekam kamera pengawas. 

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida mengungkapkan belum ada kenaikan aktivitas yang signifikan pada Gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Mengingat, guguran lava sudah terjadi mulai Agustus 2018 lalu. 

"Guguran mulai Agustus lalu itu ke dalam kawah, kemudian di arah barat laut. Nah sekarang ini mulai Desember beberapa kali mengarah ke hulu Kali Gambar," kata Hanik, Kamis, 27 Desember 2018.

Hanik mengatakan, masyarakat harus bisa mengenali gunung Merapi lewat sejumlah aktivitasnya yang terjadi beberapa waktu terakhir.

Termasuk masyarakat harus tahu sikap seperti apa yang perlu diambil menghadapi situasi Gunung Merapi terkini. Meski guguran kubah lava kerap terjadi, Gunung Merapi masih berstatus waspada. 

"Biar antisipasi bagaimana pada saat nanti terjadi kenaikan (status) agar tidak menjadi korban," ungkap Hanik.

Hanik mengimbau masyarakat tak mudah percaya informasi yang sumbernya tidak pasti. Mengingat, ada sejumlah peningkatan status gunung berapi yang ada di sejumlah negara.

Hanik kembali mengatakan, masyarakat perlu mendapat informasi yang benar agar tak mudah terprovokasi dan membuat resah. Selain infomasi, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada berbagai lapisan masyarakat. 

"Salah satunya sosialisasi koordinasi dengan instansi terkait. Kemudian kita memberikan wajib latih masyarakat di wilayah rawan bencana dan memberi informasi dengan poster dan media sosial kita," pungkas Hanik.


(DEN)