Lebih 3.000 Warga Pekalongan Mengungsi

Akhmad Safuan    •    Jumat, 25 May 2018 13:13 WIB
banjir rob
Lebih 3.000 Warga Pekalongan Mengungsi
Foto dari udara kondisi warga yang terkena dampak rob di Pekalongan, Kamis 24 Mei 2018, Ant - Harviyan Perdana Putra

Pekalongan: Banjir laut pasang atau rob merendam kawasan Pantura. Ribuan warga dari tiga kecamatan di Pekalongan, Jawa Tengah, mengungsi. Sedangkan jalur yang menghubungkan Semarang menuju Demak terendam.

Jumat 25 Mei 2018, banjir merendam tiga kecamatan di Pekalongan. Yaitu Pekalongan Utara, Barat, dan Tirto. Ketinggan banjir bervariasi mulai dari 50 hingga 10 centimeter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 3.187 warga mengungsi. Ada yang mengungsi ke masjid, sekolah, dan kantor kecamatan.

Kepala Bidang Rehabilitasi Perlindungan dan Jaminan Sosial di Dinas Sosial Perlindungan Perempuan dan Keluarga berencana Kota Pekalongan Amri Cusniaty mengatakan pengungsi membutuhkan bantuan makanan dan obat-obatan. Apalagi, pengungsi mulai terserang penyakit seperti demam, gatal-gatal, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Untuk makanan, kami menyediakan 15 ribu nasi bungkus makanan untuk sahur dan berbuka," kata Amri di Pekalongan, Jumat 25 Mei 2018.

Amri mengatakan membangun dapur umum di Lapangan Jatayu Pekalongan untuk memasak makanan. Tapi, dapur umum itu hanya mampu menyediakan 10 ribu bungkus nasi dalam sehari. 

"Maka kekurangannya diserahkan ke relawan," lanjut Amri.

Banjir juga melanda daerah lain seperti Kendal, Semarangm dan Demak. Jalan raya terendam hingga ketinggian 50 centimeter. Lalu lintas macet. 

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Semarang Retno Widyaningsih mengatakan banjir rob yang melanda pantura diperkirakan masih akan terjadi hingga pekan depan. Itu juga dibarengi dengan gelombang di Laut Jawa yang meningkat hingga 2 meter.

"Ini merupakan puncak terjadinya banjir rob, bahkan selain ketinggian air mencapai rata-rata 80-170 centimemeter juga kurun waktu 4-5 jam dalam sehari," kata Retno.



(RRN)