Merasa Tertipu, Belasan Calon TKI di Brebes Lapor Polisi

Kuntoro Tayubi    •    Selasa, 05 Dec 2017 20:11 WIB
tki
Merasa Tertipu, Belasan Calon TKI di Brebes Lapor Polisi
Calon TKI yang tertipu melaporkan ke Satreskrim Polres Brebes, Jawa Tengah. Medcom.id/Kuntoro Tayubi

Brebes: Belasan pemuda calon TKI asal Brebes, Jawa Tengah, mendatangi Mapolres Brebes untuk melaporkan dugaan penipuan pada mereka. Janji untuk bekerja ke Jepang tak kunjung terlaksana walau sudah mengeluarkan uang puluhan juta rupiah.

Salah satu korban, Azka Abdillah asal Desa Losari, mengaku sudah diberangkatkan ke Jepang pada awal Februari 2017 lalu. Tapi baru sampai bandara di Tokyo, dia dideportasi ke Indonesia lantaran tidak memenuhi persyaratan. Visa yang dibawa bukan visa kerja tapi visa kunjungan.

“Padahal, saya sudah mengeluarkan uang lebih dari Rp60 juta untuk biaya pemberangkatan dan mengurus surat-surat.  Sebelumnya saya juga telah mengikuti pelatihan bahasa selama tiga bulan," katanya di depan petugas Satreskrim Polres Brebes, Selasa, 5  November 2017.

Hal senada disampaikan Heri, 30. Dia bahkan mengaku sudah mengeluarkan duit sampai Rp100 juta. Tapi, sampai saat ini belum juga diberangkatkan ke Jepang.

"Padahal untuk mendapatkan uang itu saya harus utang dan jual tanah," katanya.

Penyidik Satreskrim Polres Brebes, Ipda Puji Haryati membenarkan adanya laporan tersebut. Ada 13 korban telah mendatangi Mapolres Brebes. Petugas masih terus melakukan penyelidikan.

“Semua kami mintai keterangan, termasuk pengelola LPK," katanya.

Puji menjelaskan, mereka yang menjadi korban rata-rata berusia 20-40 tahun. Di Kecamatan Losari, jumlahnya mencapai lebih dari 30 orang. Mereka mengaku dijanjikan bekerja di Jepang dengan gaji minimal Rp30 juta per bulan.

"Rata-rata mereka yang melaporkan sudah keluar duit di atas Rp70 juta," kata Puji.

Menurutnya, para korban membayar uang tersebut ke sebuah lembaga pelatihan yang berada di Desa Limbangan, Kecamatan Losari. Pengelolanya merupakan warga setempat. Untuk bisa diberangkatkan ke Jepang, mereka diwajibkan mengikuti pelatihan selama tiga bulan dan membayar uang berkisar Rp50-90 juta.
 


(SUR)