Pemerintah Yogya Didesak tak Lindungi Pelaku Kekerasan

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 16 May 2017 16:13 WIB
aksi kekerasan
Pemerintah Yogya Didesak tak Lindungi Pelaku Kekerasan
Aksi menolak tindak kekerasan di depan pintu masuk kantor Gubernur DIY. (MTVN/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Sejumlah perkara kekerasan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih mengambang tak terproses hukum. Pemerintah setempat didesak tak melindungi serta pelaku kekerasan.

"Ada sekitar 20 puluhan kasus tindak kekerasan dan sampai saat ini belum terselesaikan," kata koordinator umum aksi menolak tindak kekerasan, Tri Wahyu, saat aksi di depan pintu kantor Gubernur DIY, Selasa, 16 Mei 2017.

Sejumlah organisasi terlibat dalam aksi menolak kekerasan itu, seperti Masyarakat Antikekerasan Yogyakarta (Makaryo), Koalisi Masyarakat untuk Udin (K@MU), hingga warga berdaya.

Tri Wahyu menjelaskan sejumlah tindak kekerasan yang sampai kini belum tuntas. Di antaranya, pembunuhan wartawan harian Bernas Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin. Perusakan kantor Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), dan sejumlah kekeraaan lain.

Teranyar, pembubaran pameran seni tentang Wiji Thukul di Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) pekan lalu. Menurutnya, aparat kepolisian seyogianya bisa segera menuntasan sejumlah kekerasan itu, khususnya pembubaran pameran seni.

"Polda (Yogyakarta) bisa menangkap penyebar berita hoaks yang mencatut nama Sultan (Hamengku Buwono X, Gubernur DIY) setelah sembilan hari pelaporan. Kami berharap prestasi kepolisian ini juga berlanjut dalam penanganan kasus lainnya," kata dia.

Usai aksi, mereka melakukan pertemuan dengan perwakilan Pemerintah DIY. Dalam pertemuan itu, mereka memperlihatkan rekaman video pembubaran seni tentang Wiji Thukul di Pusham UII yang disertai intimidasi. Tak lama setelah itu, massa memberikan dua cakram kepingan DVD berisi rekaman video itu ke Satuan Polisi Pamong Praja DIY.

"Kami minta rekaman video bisa diteruskan ke gubernur dan bisa melihat video pembubaran pameran. Kami juga minta satu salinan video bisa diberikan Sultan ke Polda. Mari kita bawa kasus ini hingga ke pengadilan," ungkapnya.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Satuan Polisi Pamong Praja DIY, Nur Hidayat yang menemui massa mangatakan pernah bertemu langsung dengan Wiji Thukul sekali. Di luar itu, soal kekerasan di Yogyakarta, ia mengaku akan berupaya menyampaikan aspirasi masyarakat itu ke atasan.

"Nanti akan kami sampaikan ke pemerintah (gubernur DIY). Kami hanya perantara," katanya.

Sejumlah kekerasan di Yogyakarta memang terjadi dan di antaranya belum tuntas. Sementara itu, Pusham UII telah melaporkan kasus pembubaran seni tentang Wiji Thukul ke Polda Yogyakarta dan telah dilakukan olah tempat kejadian perkara. Di sisi lain, pameran seni itu tetap berlanjut hingga selesai sesuai agenda yang dijadwalkan.


(SAN)