Gusdurian Gelar Doa Bersama di Gereja St Lidwina

Patricia Vicka    •    Rabu, 14 Feb 2018 18:07 WIB
penyerangan
Gusdurian Gelar Doa Bersama di Gereja St Lidwina
Jaringan Gusdurian menggelar doa bersama di gereja st Lidwina Sleman Yogyakarta, Rabu 14 Februari 2018. (Medcom.id/Patricia Vicka)

Yogyakarta: Puluhan anggota jaringan Gusdurian DIY, gelar aksi doa bersama di Lobby Gereja st Lidwina Stasi Bedog, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Doa bersama dilakukan sebagai simbol perlawanan tindakan kekerasan dan intoleransi antar umat beragama. 

Doa bersama digelar sekitar pukul 13.30 WIB. Usai doa, jaringan Gusdurian memasangkan pita merah kepada Romo Kepala Paroki Kumetiran, Yohanes Dwi Harsanto. Dilanjutkan dengan penyerahan simbolik bunga, buku pemikiran Gusdur dan poster Gusdur bertuliskan "Agama Melarang Perpecahan Bukan Perbedaan".

Perwakilan Jaringan Gusdurian, Kyai Umaruddin Masdar mengatakan pita merah adalah simbol melawan dan menolak tindakan kekerasan pada umat beragama. 

"Kami prihatin dengan kejadian penyerangan kemarin. Kegiatan ini adalah bentuk aksi nyata kami untuk merawat persaudaraan dan perdamaian diantara umat beragama," ujar pria yang merupakan Pembinan Majelis Dzikir Gusdurian DIY di Gereja st Lidwina, Rabu 14 Februari 2018.


Jaringan Gusdurian memasangkan pita merah kepada Romo Kepala Paroki Kumetiran, Yohanes Dwi Harsanto. (Medcom.id/Patricia Vicka)

Menurutnya, aksi penyerangan st Lidwina bertentangan dengan agama, Pancasila dan kemanusiaan. Umat islam sejatinya menggelorakan kedamaian di manapun berada. 

"Islam itu artinya damai. Orang lain merasa damai jika dekat anda. Kalau tidak bawa kedamaian, berarti anda belum jadi Islam sepenuhnya," tegas Ummarudin.

Ia menegaskan, aksi penyerangan dan intoleransi umat beragama harus dihentikan. Ia berharap, Pemda DIY bisa membuat sistem yang bisa mendeteksi potensi peristiwa kekerasan yang dilakukan kelompok radikal dan gerakan intoleran secara dini. Tujuannya untuk mencegah aksi serupa terulang kembali.

"Kami juga mengajak masyarakat beragama khususnya umat Muslim untuk lebih banyak bersilaturahmi dan melakukan kegiatan dengan umat beragama lain agar tercipta kedamaian," tutupnya.

Romo Ketua Paroki, Romo Santo mengucapkan terima kasih atas dukungan dan aksi solidaritas seluruh umat beragama kepada gereja st Lidwina. 

"Semoga aksi ini menjadi aksi kekerasan dan intoleran yang terakhir di Indonesia. Sekarang kami sedang fokus menyembuhkan trauma healing umat st Lidwina, terutama anak-anak,"pungkasnya.



(LDS)