Kronologi Balita Tewas Usai Ditolak Berobat di Puskesmas

Kuntoro Tayubi    •    Selasa, 12 Dec 2017 14:05 WIB
kesehatan
Kronologi Balita Tewas Usai Ditolak Berobat di Puskesmas
Emiti saat dikunjungi Bupati Idza Priyanti di rumahnya Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Brebes, Jawa Tengah. (Medcom.id/Kuntoro Tayubi)

Brebes: Seorang bayi berusia tujuh bulan di Brebes, Jawa Tengah, harus mengembuskan nafas terakhirnya setelah ditolak saat akan berobat ke puskesmas. Icha Selvia, warga Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, tidak mendapatkan pertolongan saat berobat ke Puskesmas Sidamulya karena berkas administrasi tidak lengkap.

Anak kelima dari pasangan Saroi, 32 dan Emiti, 32, itu mengalami gejala muntah disertai buang air besar. Kejadian berawal saat Kamis, 7 Desember 2017, malam. Icha mengalami muntah-muntah. Kondisi tersebut berlanjut dengan berak-berak pada esok malamnya. 

“Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB, saya bawa ke Puskesmas. Tapi di Puskesmas saya tidak dilayani. Saya sempat menangis di sana karena sudah berjalan jauh dan disuruh pulang,” ujar Emiti dijumpai di rumahnya Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Selasa, 12 Desember 2017.

Padahal, Emiti mengaku sudah membawa perlengkapan administrasi berupa Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan KTP. Namun ia diminta kembali untuk melengkapinya dengan Kartu Keluarga. Sementara perjalanan dari rumah harus ditempuh jalan kaki sejauh 1 kilometer.

“Saya menanyakan ke petugas, anak saya mau ditangani tidak? Petugas menjawab, 'karena tidak ada KIS, ya tidak ditangani'. Anak saya ini kan masih kecil belum punya KIS dan belum masuk dalam KK," kata Emiti yang mengaku baru kali ini Icha mengalami sakit sejak kelahirannya tujuh bulan lalu.

Karena petugas menolak, ia mencoba meminta pertolongan lain dengan mendatangi bidan desa. Namun saat sampai di rumah bidan desa, yang bersangkutan sedang tidak ada. Upaya lain terus ditempuh untuk mengobati anaknya tersebut, yakni mendatangi Polindes di Balai Desa Sidamulya. Namun usahanya gagal karena Polindes saat itu sudah tutup.

Di rumah, anaknya hanya mendapat perawatan seadanya. Ia tidak berani membawa anaknya ke rumah sakit karena tidak memiliki biaya yang cukup. Sementara kondisi Icha terus melemah hingga akhirnya tidak bisa diselamatkan.

“Anak saya meninggal Minggu, 10 Desember, pukul 10.00 WIB dan langsung dimakamkan siang itu juga. Bapaknya yang bekerja jadi nelayan di Palembang sudah tahu dari berita di televisi, katanya lemes waktu tahu anaknya meninggal,” katanya.

Kepala Puskesmas Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Arlinda mengaku ada kesalahan di tempat pendaftaran. Namun ia membantah adanya penolakan. Emiti hanya diminta kembali dengan membawa berkas yang lengkap.

“Pasien (Emiti) datang tidak membawa KIS dan KK. Karena berkas tidak lengkap akhirnya petugas pendaftaran menyuruh Emiti pulang dan kembali dengan membawa kelengkapan administrasi,” ungkapnya saat ditemui di Puskesmas Sidamulya.

Arlinda mengakui ada kesalahan dalam menempatkan petugas pendaftaran karena tidak melihat kondisi pasien. Untuk itu, usai kejadian tersebut ia langsung menggeser petugas dan menggantinya dengan petugas pendaftaran yang baru.

Ia juga tidak menyalahkan petugas karena diruang pendaftaran tidak ada petugas rekam medis yang bisa mengetahui kondisi pasien. Apalagi saat Emiti datang bayi Icha dalam kondisi tenang dalam gendongan. Tidak ada tanda-tanda kegawatdaruratan yang membutuhkan pertolongan khusus.

“Jadi petugas pendaftaran melayani secara umum layaknya pasien rawat jalan,” ujarnya.

Arlinda mengakui Emiti merupakan pasien yang sering ditangani pihak Puskesmas Sidamulya. Bahkan proses kelahiran bayi Icha pun ditangani olehnya. Hanya, Arlinda mengatakan Emiti adalah salah satu warga yang kurang peduli terhadap kesehatan.

“Bayi Icha dilahirkan di pelataran rumahnya, tanpa ada bantuan medis sama sekali. Kemudian kami mengirimkan tenaga medis ke rumahnya dan merawatnya hingga kesehatannya pulih,” kata dia.


(ALB)