Tim Peneliti Menemukan Deposit Tsunami di Dekat Bandara Kulon Progo

Ahmad Mustaqim    •    Minggu, 06 Aug 2017 14:20 WIB
bandara
Tim Peneliti Menemukan Deposit Tsunami di Dekat Bandara Kulon Progo
Rancangan desain Bandara Kulon Progo, DIY -- istimewa

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus mempertimbangankan risiko bencana. Tim peneliti Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan deposit tsunami di dekat lokasi pembangunan bandara.

Deposit tsunami yang diperkirakan berusia berusia 300 tahun itu selayaknya dipertimbangkan dalam pembangunan bandara baru. "Jika waktunya 300-400 tahun lalu, artinya itu menjadi waktu mengumpulkan energi (tsunami)," kata Kepala Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta Eko Teguh Paripurno di Yogyakarta, Minggu 6 Agustus 2017.

Seandainya terjadi tsunami, lanjut Eko, bukan tak mungkin kawasan Bandara Kulon Progo berpotensi besar terdampak. Sebab, perkiraan jarak titik deposit tsunami dengan lokasi bandara sekitar dua kilometer.

(Baca: Bandara Kulon Progo Ditargetkan Beroperasi 2019)

Eko menyebut, ketinggiam tsunami bisa mencapai enam meter. Tim Geologi UPN Veteran Yogyakarta bersama lembaga dari Birmingham, Inggris, juga menemukan bahwa pesisir Pantai Pangandaran serta Pacitan berpotensi tsunami.

"Jangan menyatakan hasil temuan penelitian tidak valid. Tsunami berkembang dari waktu ke waktu dari sejarah masa lalu," ungkapnya.

Menurut Eko, patok di lokasi pembangunan NYIA 60 persennya berisiko tinggi terpapar tsunami. Titik lokasi pembangunan bandara juga rawan kekurangan air jika tak bisa mengelola dan berpotensi terdampak erosi ketika banjir.

(Baca: Pembangunan Bandara Kulon Progo Banyak Tabrak Aturan)

Eko mengaku tidak anti dengan pembangunan infrastruktur, termasuk bandara. Namun, setiap pembangunan harus bisa menyejahterakan dan memberikan perlindungan bagi orang di sekitarnya dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.

"Kawasan jadi tangguh bencana jika merespon dan menyiasati potensi bencana. Jika potensi bencana tak dipertimbangkan, itu menunjukkan ketidaksiapan pembangunan di daerah yang berisiko. Pembangunan di daerah berisiko harus memiliki lebih dari satu skenario," tuturnya.

Project Manager Proyek Pembangunan Bandara Kulon Progo PT Angkasa Pura I R. Sujiastono mengatakan, saat ini waktunya pembangunam bandara. Bukan lagi saatnya mendiskusikan hal lain.

Menurutnya, temuan penelitiam soal kerawanan bencana telah diserahkan kepada ahli. Sujiastono menyatakan, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) pembangunan bandara sudah rampung.

"Jepang yang katanya rentan sama gempa dan lain-lain tetap saja terus membangun infrastruktur bandara," ujarnya.

 


(NIN)