Pemrotes Puisi yang Dibaca Ganjar Dilaporkan ke Polisi

Akhmad Safuan, Budi Arista Romadhoni    •    Senin, 09 Apr 2018 18:23 WIB
karya seni
Pemrotes Puisi yang Dibaca Ganjar Dilaporkan ke Polisi
Ganjar Pranowo (tengah) dan Taj Yasin (kiri) berkunjung menemui Gus Mus (kanan) di Rembang, 16 Februari 2018, MI - Haryanto

Semarang: Tim kuasa hukum pasangan calon gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo-Taj Yasin melaporkan pelaku penyebar isu SARA ke Polda Jawa Tengah. Pelaku menyebarkan isu itu melalui sosial media memprotes puisi buah karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dibacakan oleh Ganjar di sebuah acara talk show di Kompas TV beberapa waktu lalu.

Heri Joko Setyo mengatakan fakta menyebutkan pernyataan yang dilontarkan RH, petinggi salah satu organisasi masyarakat, itu mengandung unsur SARA. RH mengatakan puisi tersebut menistakan agama dan menyinggung umat Islam.

"Intinya yang bersangkutan melaporkan Ganjar ke Bareskrim Polri terkait pembacaan puisi dalam Program Rosi di Kompas TV," kata Heri di Semarang, Jateng, Senin, 9 April 2018.

Padahal, ujar Heri, puisi itu dibuat Gus Mus pada 1987. Gus Mus juga memiliki hak cipta atas karya tersebut. Gus Mus merupakan tokoh agama yang memimpin Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Ia mendeklarasikan Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.

"Ganjar membaca puisi di program tersebut. Di awal, Ganjar menyebutkan puisi berjudul 'Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana' adalah karya Gus Mus. Dibacakan dengan utuh tanpa perubahan satu katapun," kata Heri.

Perbuatan RH itu, ungkap Heri, dikategorikan melanggar melanggar Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Pernyataan RH yang disebar secara berantai itu diduga mengandung ujaran dan kebencian. Justru, pernyataan RH mengandung unsur SARA dan memicu permusuhan.

Sementara itu Ganjar memilih memaafkan pemilik akun @agungizzulhaq yang menyatakan puisi tersebut tak bermutu. Malah, ujar Ganjar, ia meminta izin .untuk mengikuti akun tersebut.

Ganjar mengatakan puisi Gus Mus itu sudah dibacakan banyak orang, mulai dari santri hingga menteri. Tapi, puisi itu bermasalah setelah ia membacanya.

"Jadi ada tendensi apa sebenarnya," kata Ganjar usai mengikuti rapat kerja khusus PDI Perjuangan di Demak.


(RRN)