Fatur Klaim Laporan Malapraktiknya Ditolak Polda DIY

Patricia Vicka    •    Rabu, 02 Nov 2016 17:46 WIB
pencemaran nama baik
Fatur Klaim Laporan Malapraktiknya Ditolak Polda DIY
Fatkhur menunjukkan status FB yang menjerat dirinya ke Bui di kantor LBH jalan Ngeksigondo Yogyakarta, Rabu (2/11/2016). Foto: Metrotvnews.com/Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Fatkhurrohman, 26, sempat melapor ke Polda DIY. Fathur, panggilan akrabnya, hendak melapor dugaan malapraktik yang dilakukan klinik Naroopet pada kucing persia milik temannya.

Sayang, dia mengklaim laporannya ditolak karena dianggap belum ada undang-undang yang mengatur.

"Saya pernah lapor Polda DIY di awal 2016. Malah disuruh pulang untuk cari undang-undang apa yang tepat untuk kasus ini," tutur Fathur di kantor LBH Yogyakarta, Rabu (2/11/2016).

Niat melaporkan malapraktik itu bermula saat ia membawa kucing persia milik temannya, Indra, ke Klinik Hewan Noorpet di Jalan Solo KM 10.5 Sleman Yogyakarta pada 18 Agustus 2015.

Kucing bernama Boy itu didiagnosis mengidap kelainan mata. Pemilik klinik, Dewi Syamsuri, mencukur bulu mata Boy dan memberi obat tetes mata. 

Baca: Sudah Kucing Kesayangan Mati, Pria Ini Terancam Dibui

Beberapa hari kemudian, kondisi Boy makin parah. Boy dibawa ke RS Hewan Soeparwo UGM Yogyakarta. Dokter di situ menyayangkan tindakan pemotongan bulu mata Boy. Kucing itu mati beberapa hari setelahnya.

Fathur lantas mengunggah pengalamannya di Facebook. Unggahan itu dilaporkan ke Polda DIY oleh Dewi karena dinilai mencemarkan nama baik.

Polda DIY menetapkan Fathur sebagai tersangka pada Oktober 2016 setelah dimintai keterangan sebagai saksi.

Kepada tim LBH, Fathur mengaku pernah mendapat intimidasi dari Sri Dewi usai dirinya menuliskan keluh kesah di status Facebook-nya.

"Bu Dewi mendatangi kosan saya bersama lima-enam orang. Lalu memaksa saya ikut ke Polda DIY. Saya tolak. Lalu dia maksa minta KTP saya. Enggak saya kasih," jelasnya.

Ia menilai kepolisian pilih kasih dalam menghadapi masalah ini.

Fahtur kini terancam dijerat UU ITE Pasal 27 ayat 3 dengan ancaman penjara maksimal enam tahun penjara.

Direktur Reskrimsus Polda DIY Antonius Pudjianto masih bungkam menanggapi permasalah ini. Ia beralasan pihaknya masih menyelidiki kasus ini. "Saya cek dulu kasusnya seperti apa," katanya. 

Sementara itu pemilik klinik Naroopet, Sri Dewi Syamsuri belum bisa dihubungi. Dia tidak merespons telepon dari Metrotvnews.com. Pun saat menelepon kantor, salah seorang karyawannya bernama Ari mengatakan Dewi sedang tak di klinik.


(SAN)