Jamkes Indonesia Lebih Baik Ketimbang Filipina

Patricia Vicka    •    Kamis, 02 Mar 2017 12:14 WIB
bpjs kesehatan
Jamkes Indonesia Lebih Baik Ketimbang Filipina
Ketua Joint Learning Network Country Core Group Indonesia Ali Ghufron Mukti, Direktur Hukum, Komunikasi, dan HAL BPJS Kesehatan Bayu Wahyudi, dan Kepala Group Komunikasi Publik dan HAL BPJS Budi M. Arief -- MTVN/Patricia Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Dalam kurun empat tahun, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) telah menyasar lebih dari 174 juta atau 70 persen penduduk. Penetrasi ini menjadikan JKN-KIS jadi rujukan dunia.

Pada tataran ASEAN, posisi JKN-KIS, yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, lebih baik dibanding Kamboja dan Vietnam. Itu bila dihitung dari jumlah kepesertaan.

Posisi Indonesia memang masih berada di bawah Thailand dan Filipina. "Tapi, secara cost sharing, Indonesia lebih baik ketimbang Filipina. Di sana, masih bayar 50 persen," ujar Ketua Joint Learning Network Country Core Group Indonesia Ali Ghufron Mukti di Yogyakarta, Kamis, 2 Maret 2017.

Joint Learning Network (JLN) adalah platform pembelajaran bagi pembuat kebijakan Universal Health Coverage di negara-negara berkembang. JLN saat ini beranggotakan 27 negara.

Fakta yang diungkapkan Ghufron dibenarkan Bayu Wahyudi, selaku Direktur Hukum, Komunikasi, dan HAL BPJS Kesehatan. Menurutnya, peserta JKN-KIS cukup bayar Rp25 ribu untuk seluruh layanan kesehatan.

"Misalnya kena sakit ginjal, harus cuci darah dua minggu sekali. Satu kali cuci darah, taruh habis Rp1 juta. Itu semua ditanggung BPJS," katanya.

Bayu menyebut, jumlah peserta BPJS Kesehatan mencapai 174.757.722 jiwa (data 24 Februari 2017). "Filosofinya, gotong royong. Yang sehat membantu yang sakit," ujar dia.

Pada 2019, pihaknya menargetkan bisa coverage 257,5 juta kesehatan penduduk Indonesia. Tahun ini, BPJS Kesehatan menargetkan mampu meningkatkan angka kepesertaan menjadi 201 juta penduduk dari 174 juta.

BPJS Kesehatan juga telah bekerja sama dengan 20.374 fasilitas kesehatan pertama dan 5.221 faskes rujukan tingkat lanjutan di seluruh Indonesia.


(NIN)