Pemicu Gizi Buruk karena Pengetahuan Orang Tua Minim

Patricia Vicka    •    Jumat, 09 Feb 2018 13:58 WIB
gizi kurang
Pemicu Gizi Buruk karena Pengetahuan Orang Tua Minim
Ilustrasi. Seorang pasien gizi buruk, Dina, 9 bulan dirawat di RSUD Dr Soewandhi Surabaya, (ANTARA/Eric Ireng)

Yogyakarta: Ratusan anak di bawah lima tahun di Yogyakarta menderita gizi buruk. Penyebabnya bukan karena kimiskinan, tapi lantaran pengetahuan orang tua tentang makanan bergizi minim. 

Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Yogyakarta Endang Pamungkasiwi mengatakan, banyak orang tua asal saja memberi asupan. "Orang tua sekarang enggak ada waktu buat masak. Mereka membolehkan anak jajan di luar," kata Endang di Yogyakarta, Jumat 9 Februari 2018.

Menurut dia, menjamurnya restoran siap saji dan makanan instan membuat orang tua tambah abai. Walhasi, metabolisme tubuh anak tak sembang: kekurangan asupan berserat, kurang protein, kurang gizi, dan banyak lemak. Efeknya, tinggi dan berat badan berkejaran. 
 
Faktor lainnya, tambah Endang, orang tua malas memeriksakan anak ke pos pelayanan terpadu. Lagi-lagi karena mereka sibuk bekerja. Lebih parah, mereka tidak sadar kalau sang anak menderita gizi buruk. 

Baca: Ibu di Sleman tak Tahu Anaknya Menderita Kurang Gizi

Dinas Kesehatan Yogyakarta sejak 2014 sudah menggencarkan sosialisasi makanan gizi seimbang untuk mengerem jumlah balita penderita gizi buruk. Dinkes mendorong kabupaten dan kota mendirikan Desa Gizi. Kini sudah ada 11 Desa Gizi di Kota Gudeg.

“Kami juga lakukan pemeriksaan gizi ke sekolah," jelas Endang.

Perbaikan gizi juga menyasar calon ibu dengan memberikan obat-obatan penambah darah serta tambahan vitamin untuk ibu hamil.

Kasus gizi buruk di Kota Pelajar memang cukup ekstrem. Pada 2017, tak kurang dari 968 balita menderita gizi buruk. Sebanyak 214 di antaranya harus dirawat. Kabupaten Gunungkidul adalah wilayah dengan balita gizi buruk terbanyak dengan jumlah 205 kasus. Menyusul Kulon Progo dengan 196 balita. Di Kota Yogyakarta ada 120 kasus balita gizi buruk.


(LDS)