Belasan Bangunan SD di Pekalongan Terancam Longsor

Kuntoro Tayubi    •    Jumat, 10 Nov 2017 18:38 WIB
longsor
Belasan Bangunan SD di Pekalongan Terancam Longsor
Ilustrasi tanah longsor, MTVN - M Rizal

Pekalongan: Longsor mengancam 14 bangunan SD di Pekalongan, Jawa Tengah. Sejumlah penanganan pun telah dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat untuk mengatasi ancaman tersebut.

"Sebenarnya, sekolah dibangun dengan kondisi yang aman. Namun, belakangan ini, kondisi alam atau beberapa hal membuat bangunan sekolah itu masuk kategori rawan longsor," ungkap Kasi Sarpras SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Abdul Ghony, Jumat 10 November 2017.

Ia memaparkan 14 bangunan itu yaitu SDN 01 Klesem, SDN Kecil Kasimpar, SDN Bedagung, SDN 01 Tajur, SDN 04 Tlogopakis, SDN 03 Songgodadi, SDN 02 Gembong, SDN 01 Gembong, SDN 02 Gayungwiyoro, SDN 02 Tajur, SDN 02 Werdi, SDN 01 Kaliombo, SDN 03 Lumeneng, dan SDN 02 Kaliboja.

Menurut Ghony, belasan bangunan SD yang terancam bencana tanah longsor tersebut berada di daerah dataran tinggi, terutama di wilayah Kabupaten Pekalongan bagian selatan. Hal itu dikarenakan posisi bangunan berada di tebing dan lereng yang memiliki kontur tanah labil.

“Bisa juga karena adanya aliran air baru yang merembas ke tanah di bawah bangunan sekolah, atau karena faktor lain. Sehingga, kondisi bangunan yang semula aman, kini masuk kategori rawan," ujar dia.

Sementara itu, untuk tahun ini, pihaknya telah melakukan penanganan sekolah rawan longsor. Di antaranya, pembangunan stabilisasi lereng dengan lapisan beton di SD Bedagung Kecamatan Paninggaran, pembanguan serupa di SD 2 Simego Petungkriyono, dan SD 2 Kutorojo Kajen.

“Tahun ini total APBD untuk penanganan sekolah yang terkena rob dan tanah longsor, mencapai Rp2,8 miliar,” jelasnya.

Kata Ghony, setidaknya ada 17 SD dan 3 SMP yang mendapatkan bantuan untuk penanganan antisipasi longsor dan rob. Bentuknya diantaranya adalah peninggian halaman di 12 SD terancam rob, pembangunan talud di 3 SD rawan longsor, dan peninggian halaman di 3 SMP.

“Anggaran per sekolah, mulai dari Rp120 juta sampai Rp200 juta. Semua anggaran dari APBD, karena DAK tidak boleh digunakan untuk bencana,” pungkas Ghony.


(RRN)