Dinkes Batang Manfaatkan E-Katalog Kurangi Peredaran Obat Palsu

Iswahyudi    •    Jumat, 16 Sep 2016 17:56 WIB
obat palsu
Dinkes Batang Manfaatkan E-Katalog Kurangi Peredaran Obat Palsu
Ilustrasi. Foto: MI/Romy Pujianto

Metrotvnews.com, Batang: Penggunaan E-Katalog dinilai efektif mengurangi peredaran obat palsu di apotek maupun puskesmas di daerah. Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Jawa Tengah, membuktikannya.

"Pembelian obat mengunakan E-Katalog adalah cara paling praktis untuk mempersempit peredaran obat palsu dan kedaluwarsa," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang dr. Hidayah Basbeth kepada Metrotvnews.com, Jumat (16/9/2016).

Di Batang, proses pendistribusian dimulai dengan pembelian melalui E-Katalog oleh Dinas Kesehatan. Selanjutnya, obat-obat itu diedarkan ke seluruh puskesmas. "Dengan demikian, kami bisa memantau peredaran obat," kata dia.

Hidayah mengakui susah untuk membedakan obat asli dan palsu. Meski begitu, dia memastikan belum ada temuan obat palsu maupun kedaluwarsa di Batang.

Untuk mengantisipasi peredarannya, Dinas Kesehatan Batang rutin mengecek persediaan obat ke setiap puskesmas. "Obat yang sering dipalsukan adalah antibiotik. Untuk itu kami banyak menyoroti obat jenis ini," katanya.


Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang dr. Hidayah Basbeth

Di Sidoarjo Banyak Ditemukan Obat Kedaluwarsa

Sementara itu, di Sidoarjo, Jawa Timur, Dinas Kesehatannya banyak menemukan obat kedaluwarsa. Sebaliknya, dinas tak menemukan obat palsu selama mengawasi apotek dan toko obat yang ada di sana.

"Masih belum ada selama kita memeriksa apotek dan toko obat bersama BPOM Jawa Timur," kata Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Ika Harnasti. 

Pengawasan yang dilakukan Dinas Kesehatan Sidoarjo dan BPOM Jatim meliputi pemeriksaan faktur pembelian obat yang dikirim ke apotek dan toko obat. "Dari faktur kita bisa telusuri legalitas pabrik yang mengeluarkan obat," kata Ika.

Kasie Farmasi Makanan, Minuman dan Perbekalan Kesehatan Dinas Kesehatan Sidoarjo, Nur Laily, mengatakan pemkab Sidoarjo sudah membentuk tim koordinasi pembinaan dan pengawasan farmasi, makanan minuman, kosmetika, alat kesehatan, dan perbekalan kesehatan rumah tangga. 

"Tim ini juga membina kader kesehatan untuk mengerti mengenai obat-obatan," kata Nur Laily. 

Di Sidoarjo ada 400 lebih apotek dan 30 toko obat. Untuk mengawasi peredaran obat di sana, Dinkes Sidoarjo mengaku masih kesulitan karena belum memiliki laboratorium sendiri. Sehingga, instansi ini menggandeng BPOM. 

"Kita hanya menindaklanjuti hasil temuan BPOM dan memberikan pembinaan terhadap temuan -temuan di lapangan," kata dia.


Petugas kesehatan memeriksa obat. Foto: MI/Galih Pradipta

Sebelumnya, tim gabungan Bareskrim dan Badan Pengawas Obat dan Makanan menemukan lima gudang produksi dan distribusi besar obat ilegal di Kompleks Pergudangan Surya Balaraja, Balaraja, Banten pada 2 September. Tim menyita seisi gudang dan menyegel gudang itu.

Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan mayoritas temuan adalah obat yang menimbulkan efek halusinasi. Tim juga menemukan obat tradisonal tanpa izin edar dan mengandung bahan kimia berbahaya dengan berbagai merek, yaitu Pae, African Black Ant, New Anrant, Gemuk Sehat, dan Nangen Zengzhangsu.

Dari lima gudang di Balaraja, tim gabungan menyita alat-alat produksi obat ilegal yakni mixer, mesin pencetak tablet, mesin penyalut, mesin stripping, dan mesin filling. Selain itu, tim menemukan bahan baku obat, bahan kemasan, obat jadi, dan obat tradisional siap edar bernilai lebih dari Rp30 miliar.


(UWA)