SMP di Yogyakarta Pertahankan Sistem Lima Hari Sekolah

Patricia Vicka    •    Jumat, 08 Sep 2017 14:04 WIB
pendidikan
SMP di Yogyakarta Pertahankan Sistem Lima Hari Sekolah
Ilustrasi siswa SMP mengikuti proses belajar mengajar. Foto: Antara/Tommy Saputra

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Seluruh sekolah SD dan SMP di Kota Yogyakarta sudah melaksanakan lima hari sekolah sejak tahun ajaran baru 2017-2018. Walau demikian, Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti memberi kebebasan sekolah untuk memilih usai presiden Jokowi menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017,

"Kami membebaskan ke sekolah apakah mau lima hari enam hari silahkan. Kalau bagus (lima hari sekolah) ya dilanjutkan saja," ujar Haryadi di Yogyakarta, Jumat 8 September 2017. Selama ini ia menilai pelaksanaan lima hari sekolah di SMP dan SD Kota Yogyakarta sudah berjalan dengan baik.

Terpisah, Wakil Kepala SMP Negeri 5 Yogyakarta, Abdurrahman, mengatakan pelaksanaan lima hari sekolah telah dimulai sejak tahun ajaran baru. Siswa kini masuk sekolah lima hari dari jam 07.00-15.00 WIB. Dua jam lebih lama dari kegiatan belajar mengajar (KBM) model lama.

Tapi, sekolah dan orangtua siswa merasakan manfaat lebih banyak pada penerapan lima hari sekolah. Sekolah pun sudah memanggil orang tua siswa untuk mengevaluasi pelaksanaan lima hari sekolah.

(Baca: SMA di Solo Tetap Jalankan Sekolah Lima Hari)

"Orang tua dan siswa mendukung pelaksanaan lima hari sekolah. Karena Sabtu libur, waktu berkumpul bersama keluarga jadi lebih banyak," katanya.

Sekolah pun berencana mempertahankan sistem lima hari sekolah ke tahun ajaran berikutnya.

Pendidikan berkarakter

Pendidikan karakter pun sudah mulai diberlakukan. Salah satunya dengan memberi contoh dari para guru.

Setiap hari para guru datang setengah jam lebih awal. Para guru kemudian berjejer di pintu masuk sekolah untuk bersalaman dengan para siswa dan orangtua siswa yang mengantar.

Selain itu, pendidikan karakter juga diajarkan dalam bentuk kurikulum dan disisipkan di dalam pelajaran. Misalnya dengan memberikan pelajaran muatan lokal bahasa Jawa ke seluruh siswa.

(Klik: Perpres Pendidikan Karakter Dinilai Akomodir Kepentingan Semua Pihak)

"Lima belas menit diawal pelajaran, kami lakukan doa bersama lalu diberi pelajaran agama kilat. Kami menyanyikan lagu Indonesia raya juga. Siang pas istirahat kedua kami berikan pendidikan agama sesuai agama masing-masing," terangnya.

Presiden Jokowi menandatangani Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Perpres tersebut sekaligus mengubah kewajiban lima hari sekolah.

Kebijakan lima hari sekolah harus mempertimbangkan beberapa aspek. Antara lain kecukupan pendidik, ketersediaan sarana prasarana, kearifan lokal, pendapat tokoh masyarakat dan atau tokoh agama di luar komite sekolah atau madrasah.

Perpres juga berbunyi ketentuan hari sekolah diserahkan pada masing-masing satuan pendidikan bersama-sama dengan komite sekolah atau madrasah. Hal ini termaktub dalam Perpres.

(Baca juga: Aturan Turunan Perpres Pendidikan Karakter Disiapkan)


(SUR)