Menteri Susi Ikut Tapa Bisu di Solo

Pythag Kurniati    •    Kamis, 21 Sep 2017 12:41 WIB
warisan budaya
Menteri Susi Ikut Tapa Bisu di Solo
Menteri Susi dan pejabat negara tampak khidmat mengikuti Kirab Pusaka 1 Suro di Solo, Rabu malam 20 September 2017, MTVN - Pythag Kurniati

Metrotvnews.com, Solo: Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ikut kirab pusaka Satu Suro di Solo, Jawa Tengah, Rabu malam 20 September 2017. Susi menilai kegiatan itu berkesan terlebih lagi merupakan kali pertama dirinya mengikuti kirab pusaka.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Rombongan kerabat Mangkunegaran, abdi dalam, dan tamu pun berjejer rapi di Pura Mangkunegaran. Selain Susi, tampak pula Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat, Anggota DPR Aria Bima, dan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo alias Rudy.

Susi tampak cantik dengan kebaya hitam dan bawahan kain batik. Ia menata rambutnya membentuk sanggul. 

Ia berjalan anggun bersama Ganjar, Tjahjo, dan Rudy di sisi kiri serta kanannya. Wajah Susi tampak serius selama mengikuti kirab. Ia berjalan tanpa mengenakan alas kaki agar tak mengganggu kekhidmatan.

Penampilan Susi berbeda dari biasanya. Ia lebih kalem. Padahal, Susi dikenal dengan sosok Menteri yang ekspresif. Susi juga tak berkomentar banyak mengenai kesannya.

"(Kegiatan ini) Perlu dilestarikan supaya masyarakat tahu. Saya pikir ini adalah kebersamaan yang luar biasa. Memelihara budaya, kearifan lokal adalah hal penting bagi sebuah bangsa,” tutur Susi.

Panitia Kirab Joko Pramudyo mengatakan kegiatan itu digelar tahunan. Sebelum kirab, lima pusaka milik Keraton Solo dicuci atau warga setempat menyebutnya dengan istilah dijamasi.

Barisan kirab menempuh perjalanan sejauh kurang lebih dua kilometer. Kirab dimulai dari Pura Mangkunegaran lalu melewati Jalan Ronggowarsito, Jalan RA Kartini, Jalan RM Said, lalu Jalan Teuku Umar. Kirab berakhir di Mankgkunegaran.


(Warga berebut air jamasan Kirab Pusaka Solo, Rabu 20 September 2017, MTVN - Pythag Kurniati)
 
Menurut Joko, selama kirab, peserta harus berjalan tanpa alas kaki. Suara juga tidak boleh mengganggu kirab.

“Bukan karnaval, bukan hura-hura. Kirab ini lebih banyak makna laku prihatin, mengikuti kirab dengan tapa bisu, tidak bicara sama sekali,” terang dia.

Keriuhan terjadi setelah beberapa pusaka dikirab. Warga langsung berebut air jamasan pusaka. Beberapa warga mengusapkan air jamasan ke muka. Beberapa lain menyimpannya ke botol.

Dalinah, 65, ikut berebut air dan bunga bekas jamasan pusaka. Ia percaya air itu memiliki khasiat termasuk menyembuhkan luka pada kakinya.
 
"Diusapkan di kaki supaya sembuh. Lalu saya berikan bunga ke cucu saya agar lancar kuliahnya," papar dia.
 



(RRN)