Geliat Usaha Gula Tumbu di Jepara Meredup

Rhobi Shani    •    Jumat, 04 Aug 2017 11:57 WIB
gula tumbu
Geliat Usaha Gula Tumbu di Jepara Meredup
Pekerja tengah menggiling tebu. --MTVN/Rhobi--

Metrotvnews.com, Jepara: Keberadaan usaha pembuatan gula merah yang dikemas dengan wadah dari anyaman bambu di Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kian terdesak. Perluasan lahan pabrik mencaplok tempat-tempat usaha pembuatan gula yang lebih dikenal dengan sebutan gula tumbu.
 
Dari puluhan brak atau tempat pembuatan gula tumbu pada tahun 90-an, kini hanya menyisakan belasan yang masih berproduksi. Salah satu brak gula tumbu yang masih beroperasi milik Norkhan. “Usaha ini warisan dari orangtua sekitar awal tahun 1980an, lalu saya lanjutkan sampai sekrang,” ujar Norkhan, 54, perajin gula tumbu warga desa setempat, Jumat 4 Juli 2017.
 
Norkhan menceritakan, pamor usaha gula tumbu kini meredup. Di desa Gemulung, di era tahun 90an tercatat ada sedikitnya 22 tempat usaha pembuatan gula tumbu. Namun, saat ini yang masih bertahan berkisar belasan.
 
“Dulu kalau musim panen tebu banyak bakul (tengkulak) yang datang membeli gula. Sekarang sudah sepi,” kata Norkhan di sela-sela kesibukannya membuat gula tumbu.
 
Ditambahkan Norkhan, gula tumbu hasil buatannya banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan kecap, roti tradisional, bumbu, sambal. Saat ini, harga gula tumbu setiap 1,6 kuintal dibandrol Rp600 ribu.
 
Norkhan menduga, menyusutnya jumlah brak, ditengarai karena ekspansi pabrik tekstil yang mencaplok lahan tebu. Sampai saat ini lebih dari 40 hektare lahan tebu berubah menjadi pabrik.
 
“Lahan berkurang, secara otomatis bahan baku produksi gula tumbu juga berkurang,” ungkap Norkhan.
 
Seorang pekerja, Joko menceritakan hal serupa. Saat ini proses pembuatan gula tumbu kurang dari tiga bulan. Dulu, ketika lahan tebu masih luas, Joko mengaku bisa bekerja hingga tiga bulan lebih.
 
“Dulu bisa nggiling tebu tiga bulan lebih, sekarang paling lama 2,5 bulan sudah berhenti tidak nggiling. Itu karena memang tidak ada tebu yang bisa digiling. Lahannya sudah habis,” keluah Joko.
 
Norkhan dan Joko sama-sama berharap ada perhatian dari pemerintah. Di tengah impitan tembok pabrik, mereka berharap ada perluasan ladang tebu. Itu menjadi kunci untuk mendukung usaha penggilingan dan pemasakan gula secara tradisional ini. 
(ALB)