Menapis Air di Telaga Kering

Ahmad Mustaqim    •    Minggu, 16 Jul 2017 17:59 WIB
kekeringan
Menapis Air di Telaga Kering
Dua warga Gunungkidul saat mengambil sisa air di telaga yang sudah mengering.

Metrotvnews.com, Gunungkidul: Pelan-pelan, tangan Sukini, 56, menciduk air dari sebuah lubang di tengah telaga di perbukitan karst. Bukan lantaran usia tuanya yang membuat gerakan tangannya tak begitu ritmis. Namun, lubang yang ada di Telaga Banteng itu nyaris tak ada airnya. 

Warga Dusun Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu tak sendiri. Pada sudut lain, Watinah, 63, pun melakukan hal serupa. 

Pada Minggu, 16 Juli 2017 yang terik itu, mereka takzim menapis air agar kotoran tak terbawa dalam ember atau jeriken. Maklum, telaga yang biasanya berlimpah air, kini hampir kerontang. 

Tanah di lokasi tersebut terlihat sudah pecah-pecah setelah dihajar dua bulan kemarau. Warga setempat membuat lubang di sejumlah titik sedalam sekitar 50 sentimeter.

"Sejak tidak ada hujan sebagian warga ambil air buat kebutuhan di sini," ujar Sukini. 
 
Setidaknya, ada belasan lubang di telaga yang sudah mengering itu. Sebagian besar lubang sudah tidak ditemukan air. Hanya sekitar tiga lubang yang mengeluarkan air saat itu, termasuk yang diambil Sukini. 

"Air dari sini (bekas telaga) dipakai buat minum ternak dan mencuci di rumah. Ambilnya tiap pagi dan sore," ujarnya. 

Di lokasi itu, sejumlah ember dan jeriken tampak masih berada di sekitar lubang. Sang pemilik, kata Sukini, memilih meninggalkannya sementara untuk mengendapkan kapur dan debu yang menyatu dengan air. 

Sukini juga menuturkan, sudah sekitar empat bulan di Kecamatan Rongkop tidak turun hujan. "Penampungan air sudah habis. Cari air di telaga yang tidak air ini jadi pilihan," ucapnya. 

Di Desa Melikan sebetulkan sudah terpasang saluran pipa PDAM. Namun, air yang diharapkan warga ternyata tak menjangkau wilayah itu. Alternatif lain, warga, termasuk Sukini, membeli air dari tangki swasta seharga Rp120.000 per tangki. Biasanya, Sukini menghabiskan air yang dibeli lebih dari satu minggu. 

"Ambil air sisa di telaga, ya, biar tidak keluar uang terus. Sehari bisa balik sampai empat kali. Jalan kaki 500 meter sampai di rumah," kata dia. 

Watinah pun demikian. Menurutnya, air sisa telaga yang mengering itu lebih bersih. Ia mengatakan, air yang dibeli dari tangki swasta terkadang keruh. 

"Ini saya buat membersihkan kedelai untuk membuat tempe. Airnya juga kadang dipakai untuk masak," tuturnya. 

Hingga saat ini, pemerintah setempat memang belum mampu mencukup kebutuhan air seluruh warga saat memasuki musim kemarau. Bantuan air dari BPBD Gunungkidul tidak bisa menjangkau seluruh warga.

Setidaknya, dalam laporan yang masuk BPBD Gunungkidul, ada 32 desa di tujuh kecamatan yang minta bantuan air bersih. Tujuh kecamatan itu yakni Girisubo, Panggang, Paliyan, Purwosari, Rongkop, Tanjungsari, dan Tepus. Total, ada 45.230 jiwa terdampak kekeringan musim kemarau.


(SAN)