Jejak 37 Pusara Pahlawan Tanpa Nama di Brebes

Kuntoro Tayubi    •    Minggu, 11 Nov 2018 15:00 WIB
hari pahlawan
Jejak 37 Pusara Pahlawan Tanpa Nama di Brebes
Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) ziarah di makam pahlawan di Brebes, Jawa Tengah. (Medcom.id /Kuntoro Tayubi)

Brebes: Sebanyak 37 pusara tanpa nama bersemayam di Taman Makam Pahlawan Pagerayu, Desa Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kompleks pemakaman ini dikuasai pihak desa supaya keberadaan makam tetap terawat.

Makam dengan nisan tanpa nama ini merupakan saksi bisu keganasan Belanda saat Agresi Militer Belanda II di tahun 1948. Saat itu, Belanda mengingkari perjanjian Linggarjati. Di makam ini, terdapat 37 pahlawan yang tergabung dalam kelompok Hisbullah.  

“Ini merupakan makam para prajurit Hizbullah yang dibantai oleh pasukan Belanda tahun 1948. Satu di antara korban ini adalah Kapten Ismail, pahlawan nasional,” kata sejarawan Brebes, Wijanarto, Minggu, 11 Nopember 2018.

Ia menjelaskan, salah satu isi perjanjian Renville 17 Januari 1948 menyatakan beberapa wilayah yang semula dikuasai oleh RI, harus pindah tangan ke Belanda. Sebagai dampaknya, banyak aparatur dan pendukung republik ini harus hijrah ke wilayah RI. Termasuk di dalamnya adalah badan kelaskaran Hisbullah.

Pada Perjanjian Renville, wilayah RI berada di DIY, bagian selatan Jawa Tengah dan sebagian kecil Jawa Timur. Mereka berpindah ke wilayah yang ditetapkan menjadi daerah RI yakni di Banjarnegara. Hal ini membuat mereka jauh dengan keluarga.

Laskar Hisbullah ini lama bergerilya dan ingin menengok sanak saudaranya di kota. Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka letih dan beristirahat di rumah warga di Desa Jatirokeh. Beberapa bangunan rumah yang menjadi saksi sejarah keganasan prajurit Belanda terhadap laskar Hizbullah di Desa Jatirokeh adalah milik Jazuli, Medah dan Soyu.

“Saat itu, tentara Hizbullah hendak pulang ke Brebes dan Tegal untuk menemui keluarga setelah berbulan-bulan perang gerilya. Mereka pulang menggunakan jalur tikus untuk menghindari patroli Belanda,” tutur penulis buku Sejarah Berdirinya Kabupaten Brebes ini.

Salah satu jalur yang dilalui adalah Desa Jatirokeh. Di sini mereka menginap di rumah tiga warga tersebut. Namun ternyata keberadaan mereka diketahui oleh intel pasukan Belanda yang bernama Nevis.

Di tiga rumah ini, Belanda memberondong 37 prajurit Hizbullah dengan senapan mereka hingga meregang nyawa dari subuh hari. Selain menembak secara bertubi tubi, tentara Belanda juga membakar rumah milik Medah dan Soyu karena dianggap sebagai tempat persembunyian tentara Hizbullah.

37 prajurit dikuburkan di depan rumah tersebut dalam kondisi masih berlumuran darah. Warga menganggap tidak perlu mengkafani dan memandikan karena mereka gugur sebagai syuhada. Beberapa tahun kemudian, identitas salah tentara Hizbullah itu mulai terungkap. Satu di antara mereka yang gugur adalah Kapten Ismail.

“Pihak keluarga mengidentifikasi dari cincin kawin yang melingkar di kerangka jarinya. Oleh keluarga, kerangka Kapten Ismail ini dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan di Kota Tegal dan dijadikan nama sebuah jalan di Kota Tegal," pungkasnya.

Salah satu warga yang rumahnya berhadapan dengan makam, Ma’ani, 50, membenarkan cerita tentang peristiwa tersebut. Karena banyaknya Laskar Hisbullah yang meninggal, satu liang lahat diisi beberapa jenazah. Satu lubang untuk dua sampai tiga jenazah.

“Makam Pahlawan Pagerayu ini sudah dijadikan cagar budaya. Setiap tanggal 17 Agustus, pemerintah selalu membersihkan dan melangsungkan upacara bendera di tempat itu,” kata cucu Kalimah yang tanahnya bersemayam 37 pahlawan tanpa nama ini.




(ALB)