Potret Ponggok dan Karangrejek, Desa yang Sukses Kelola BUMDes

Pythag Kurniati    •    Senin, 13 Nov 2017 15:15 WIB
Potret Ponggok dan Karangrejek, Desa yang Sukses Kelola BUMDes
Destinasi wisata umbul ponggok di Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Sumber : Istimewa (BUMDes Ponggok)

Solo: Desa Ponggok di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah menjadi contoh sukses pengelolaan BUMDes di Jateng DIY. Ponggok berhasil menyulap umbul (mata air) menjadi destinasi wisata yang digemari.

Direktur Pengembangan BUMDes Tirta Mandiri (Ponggok) Untung Hari Margana menjelaskan, tahun 2015, Ponggok mampu menghasilkan laba kotor Rp 5,6 miliar. Kemudian tahun 2016, laba kotor meningkat menjadi Rp 10,2 miliar.

"Rata-rata kunjungan wisatawan 30 ribu wisatawan per bulan. Meliputi wisatawan dalam dan luar negeri," ungkap Untung di Kota Solo, Senin, 13 November 2017.

Wisata Umbul Ponggok pun, lanjutnya, mampu menekan angka urbanisasi. Lantaran puluhan orang tenaga kerja terserap.

"Saat ini ada sekitar 90 orang (tenaga kerja). Semuanya berasal dari Desa Ponggok," terang dia.

Menariknya, BUMDes Ponggok melakukan inovasi dengan membuka program investasi pada tahun 2015. Investornya merupakan warga desa setempat.

Mereka melakukan investasi dengan mengelola persewaan alat dan kamera. Hingga saat ini tercatat 200 Kepala Keluarga (KK) di Desa Ponggok yang menjadi investor.

"Para investor mendapatkan profit sharing 6 persen hingga 15 persen satu bulan," papar Untung.

Tentu saja sukses pengelolaan ini tidak diraih begitu saja. Rintisan destinasi wisata umbul ponggok telah dimulai sejak tahun 2009.

Desa lain di kawasan Jateng DIY yang menjadi contoh suksesnya pengelolaan BUMDes adalah Desa Karangrejek, Wonosari, Gunung Kidul. Setiap tahunnya pendapatan BUMDes dari pengelolaan air minum di desa tersebut mencapai Rp 700 juta.

"Kami bisa memberikan Pendapatan Asli Desa (PADes) Rp 74 juta setiap tahun dengan jumlah tenaga kerja 32 orang," ungkap Direktur BUMDes Karangrejek Ton Martono.

Kemandirian ekonomi Desa Karangrejek dari pengolahan air minum juga dapat dilihat dari bantuan pembiayaan sekolah serta bantuan sosial. Bantuan-bantuan tersebut diberikan pada warga desa setempat. 

Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Anwar Sanusi mengungkapkan, sekitar 50 BUMDes di Indonesia memiliki prestasi luar biasa. "Mereka mencatatkan omzet mencapai lebih dari 500 juta per tahun," ungkap Anwar.

Kemendes dan PDTT mendorong masyarakat mempelajari dan mengembangkan BUMDes. Sebab tidak hanya menciptakan kemandirian ekonomi, sukses pengelolaan BUMDes mampu menekan urbanisasi dari desa ke kota.
(ALB)