Warga Brebes Mengubah Pohon Bakau Menjadi Bahan Baku Batik

Kuntoro Tayubi    •    Selasa, 03 Oct 2017 09:42 WIB
batik
Warga Brebes Mengubah Pohon Bakau Menjadi Bahan Baku Batik
Perajin batik mangrove di Brebes, Jawa Tengah, menunjukkan hasil produksinya -- MTVN/Kuntoro Tayubi

Metrotvnews.com, Brebes: Pohon bakau yang sudah mati biasanya hanya bisa dijadikan sebagai bahan baku arang. Namun, warga Brebes berhasil mengubah pohon bakau menjadi bahan baku batik mangrove brebesan.

Batik brebesan juga dikenal dengan nama batik salem. Batik ini adalah salah satu kekayaan asal Kabupaten Brebes, yang telah menjadi komoditas ekonomi warga Desa Bentar dan Bentarsari di Kecamatan Salem.

Ciri khas batik brebesan banyak dipengaruhi oleh batik Pekalongan dari pola buketannya, batik Surakarta dan Yogyakarta dari segi pewarnaan, bentuk pola, dan pilihan motif, serta batik Tegal dan Banyumas dari segi pewarnaan soga. Ada keunikan dalam pembuatan batik mangrove brebesan.

"Batik mangrove adalah terobosan dan inovasi, yaitu menggunakan tinta dari mangrove yang sudah mati. Ini adalah kearifan lokal yang sedang dikembangkan di pesisir utara Kabupaten Brebes," kata Gatot Sunarto, 50, perajin batik mangrove brebesan di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Brebes, Jawa Tengah, Selasa 3 Oktober 2017.

Gatot mejelaskan, hasil batik mangrove tidak secerah batik yang memakai tinta sintetik. Agar warna lebih cerah, perlu dikombinasikan dengan pewarna sintetik.

Menurut Gatot, saat ini ada 50 perajin batik mangrove di Desa Kaliwlingi. Mereka bekerja di sela-sela waktu mengurus keluarga. Dibutuhkan waktu lima hari untuk menghasilkan satu lembar kain batik.

"Kami hanya membuat motif mangrove dan bawang, lainnya masih dalam proses," katanya.

Seorang kolektor batik mengatakan, kehadiran batik mangrove menambah khasanah batik Brebes. "Namun, batik mangrove masih perlu dipoles dan disiasati agar tidak terlalu mahal harganya," kata Lisnaena Lisriyanti, 47, yang juga anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) ini.

Ketua Pokdarwis Mangrovsari, Rusjan, 60, mengaku, harga memang menjadi kendala pengrajin dan pengelola batik. Proses yang lama dan tinta berbahan alami menjadikan harga batik mangrove cukup tinggi dibandingkan batik lainnya.

"Masalah harga menjadi PR (pekerjaan rumah) untuk kami, selain motif dan pemasaran. Kami masih perlu masukan dan dukungan dari berbagai pihak untuk kemajuan batik mangrove," katanya.


(NIN)