Kerajinan Batik Brebesan 'Bertahan' sejak 100 Tahun Lalu

Kuntoro Tayubi    •    Rabu, 03 Oct 2018 20:36 WIB
batik
Kerajinan Batik Brebesan 'Bertahan' sejak 100 Tahun Lalu
Pengusaha batik asal Semarang, Widianingsih Sunandar, menunjukkan motif batik Brebesan, Medcom.id - Kuntoro

Brebes: Pengrajin Batik di Brebes, Jawa Tengah, terus membumikan dan mengembangkan motif terbaru agar bisa diterima oleh masyarakat luas. Upaya itu juga dilakukan agar batik yang bersentra produksi di Wilayah Kecamatan Salem ini bisa bersaing dengan batik dari daerah lain.

Ketua Koperasi Mitra Batik Salem, Warmin mengatakan, saat ini dirinya terus mengembangkan motif batik terbaru untuk memenuhi kebutuhan pasar. Saat ini masyarakat sudah kritis dengan motif-motif batik yang selama ini diproduksi oleh para perajin.

Mereka kebanyakan meminta motif yang lebih sesuai dengan warna kulit dan kultur daerah di mana mereka tinggal. Dengan demikian, lanjut dia, dirinya harus pandai-pandai dalam membuat motif batik. Ia mencontohkan, saat ini sejumlah pegawai banyak yang menyukai motif batik lurik. Bahkan di sejumlah daerah motif batik itu sudah dijadikan sebagai seragam resmi.

"Perkembangan ini harus kami ikuti, sehingga batik khas salem tidak ketinggalan dengan batik asal daerah lain," katanya, di rumah produksinya, Selasa, 2 Oktober 2018.  

Menurutnya, batik khas Salem memiliki 60 jenis motif tradisional yang selama ini telah dipasarkan ke masyarakat. Dengan perkembangannya, saat ini jumlahnya terus bertambah. 

Saat ini, Warmin mengaku telah membuat dua motif baru yang segera dipasarkan ke publik. Kedua motif tersebut di antaranya motif batik tinemu bagja dengan jumlah produksi 35 lembar dan mutiara Brebes mencapai 300 lembar Jenis motif tersebut telah banyak diminati. Bahkan permintaan terhadap dua jenis motif itu mulai berdatangan dari daerah lain seperti, Jogyakarta, Ngawi, dan Bandung.

Batik salem atau yang dikenal dengan motif batik brebesan adalah salah satu kekayaan asal Kabupaten Brebes yang telah menjadi komoditas ekonomi warga Desa Bentar, dan Bentarsari, Kecamatan Salem. Keberadaan batik brebesan muncul sekitar abad ke-IXX (sembilan belas), tepatnya pada tahun 1917.  

Dari perkembangannya, saat ini batik salem telah munculkan berbagai motif, di antaranya motif kopi pecah, manggar, dan ukel dengan ciri khas warna hitam dan putih. 

Salah satu pemerhati kerajinan batik yang juga pengusaha batik asal Semarang, Widianingsih Sunandar mengaku, dilihat dari motif yang ada batik salem memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan batik dari daerah lainnya. Untuk itu, ia membawa batik salem untuk di jual di galeri miliknya.

Keberadaan batik salem yang memiliki keindahan dalam bentuk dan ragam corak terus dipopulerkan oleh para pengrajin. Salah satunya dengan mempromosikannya ke sejumlah pegawai di lingkungan Pemkab Brebes. Dari promosi itu, tak sedikit beberapa pegawai di lingkungan Pemkab Brebes kini banyak yang menggandrungi kain batik brebesan.

Lusiana Indira Isni misalnya, PNS yang bertugas di Kantor Pemda Brebes  mengaku sudah lama menggunakan batik salem sebagai pakaian keseharian. Menurutnya, keberadaan batik salem merupakan salah satu produk unggulan Kabupaten Brebes. 

"Saya telah menggunakan batik salem sebagai pakaian keseharian. Selain itu, coraknya yang beragam membuat batik salem sangat cocok untuk busana kerja," ungkapnya.


(RRN)