Banjir Cilacap Berangsur Surut

   •    Rabu, 12 Oct 2016 14:52 WIB
banjir
Banjir Cilacap Berangsur Surut
Sejumlah siswa sekolah dasar melintasi genangan air yang membanjiri lingkungan sekolah mereka di SD Negeri Sidareja 3, Cilacap, Jateng, Selasa (11/10). (Ant/Idhad Zakaria)

Metrotvnews.com, Cilacap: Ketinggian banjir yang menggenangi Kecamatan Sidareja, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu, 12 Oktober, surut 20 sentimeter dibanding kemarin 80-170 sentimeter. Namun, genangan mulai meluas ke beberapa wilayah lain dari semula empat desa.

Badan Penanggangan Bencana Daerah Cilacap belum bisa memastikan jumlah luasan wilayah yang tergenang. Termasuk, jumlah rumah warga yang terendam banjir. "Saat ini kami masih mendata," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis BPBD Cilacap Wilayah Sidareja Agus Sudaryanto, dikutip Antara.

Baca: Banjir Lebih Semeter Rendam 1.500 Rumah di Cilacap

Dia mengaku khawatir tinggi genangan air kembali bertambah karena cuaca pada pukul 13.30 WIB mulai terlihat mendung. "Bahkan di wilayah atas (pegunungan sebelah utara Sidareja, red) sudah hujan," katanya.

Sejak kemarin, Kecamatan Sidareja dan Kedungreja tergenang banjir akibat hujan lebat. Ketinggian banjir mencapai lebih dari satu meter.

Terkait banjir di Kecamatan Kedungreja, dia mengatakan hingga saat ini masih menggenangi empat desa. Namun, tidak ada warga yang mengungsi. Banjir di kecamatan ini disebabkan luapan Sungai Cibereum.

Tanah bergerak

Di wilayah lain, tepatnya di di Desa/Kecamatan Cipari, terjadi fenomena tanah bergerak. Agus mengatakan, hingga sekarang, gerakan tanah itu masih terjadi.

"Berdasarkan pengamatan visual yang kami lakukan tadi pagi, pergeseran tanahnya sudah bertambah 0,5 sentimeter," katanya.

Ia mengatakan, panjang retakan akibat pergerakan tanah di Desa/Kecamatan Cipari, Selasa (11/10/2016) telah mencapai 150 meter dengan lebar berkisar 10-50 meter dan pergeserannya telah mencapai 2 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Sedangkan ketinggian tanah 125 meter dengan kemiringan 35 derajat.

Jarak tanah bergerak dengan pemukiman sekitar 75 meter dan mengancam delapan rumah yang dihuni 40 jiwa.


(SAN)