Pengakuan Pelajar Eks Pelaku Klithih Yogyakarta

Ahmad Mustaqim    •    Minggu, 19 Mar 2017 11:58 WIB
tawuran
Pengakuan Pelajar Eks Pelaku <i>Klithih</i> Yogyakarta
Foto ilustrasi. (Metrotvnews.com/M Rizal)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Tindak kekerasan melukai orang, atau di Yogyakarta akrab disebut klithih, acap kali terjadi. Bahkan ada sejumlah pelajar di bawah umur menjadi pelaku. Sejumlah eks pelajar pelaku klithih mengakui tindak kekeraan dijalankan demi eksistensi di antara geng pelajar sekolah.
 
Seorang eks anggota geng pelajar, Aman (bukan nama asli), menjelaskan jalan panjang mengapa ia pernah bergabung menjadi anggota geng. Pada 2011, Aman yang selesai mengikuti masa orientasi sekolah (MOS) di salah satu SMK di Kota Yogyakarta, diserang geng pelajar saat melintasi Jalan Magelang.

Ia disabet dengan pedang. Beruntung, ia selamat dengan meminta bantuan salah satu geng pelajar di sekolahnya. Usai kejadian itu, Aman perlahan kian dekat dengan geng pelajar di sekolahnya karena merasa berutang jasa.

Ia kerap kali berkumpul di pertemuan anggota geng. Kebanyakan anggota geng adalah kakak kelas Aman di sekolah. “Di forum itu saya dikenalkan dengan kakak kelas,” ujarnya, Minggu 19 Maret 2017.

Pembekalan klithih
 
Pertemuan itu menjadi titik awal Aman masuk anggota geng. Menurut dia, geng pelajar di sekolah biasa mencari anggota yang masih duduk di bangku kelas 1 dan akan diambil sekitar 30 orang saban angkatan.

Kawasan Perbatasan Rawan Klitih


Calon anggota baru akan memperoleh sejumlah pembekalan, misalnya, menjaga nama baik geng di mata sekolah lain, tes melawan kakak kelas dengan batasan tertentu, hingga praktik klithih dengan panduan anggota senior.
 
Dalam melakukan klithih, Aman menjelaskan, bakal dibagi sejumlah orang yang menjadi koordinator atau leader, fighter, serta keeper. Pos-pos tersebut telah ditentukan sesuai kemampuan tiap angota yang bakal melakukan klithih.

Misalnya, koordinator biasa diisi dengan senior yang lebih berani dan biasanya duduk di bangku kelas 3. Keeper hanya bertugas menjaga situasi dari jarak tertentu tatkala melakukan klithih. Saat melakukan klithih, sang leader-lah yang boleh membawa senjata tajam. Rute aksinya pun telah ditentukan.
 
“Anggota hanya boleh mambawa pentungan, seperti kayu atau shockbreaker. Minimal bisa jalan melakukan klithih dengan tujuh motor. Tapi semua hanya nurut koordinator, kalau diizinkan jalan, kalau tidak, ya, enggak,” kata dia.

Tidak boleh mabuk
 
Aman mengaku pernah ikut melakukan klithih siang hari sepulang sekolah ketika masih duduk di bangku kelas 1. Dalam perjalanan waktu, ia melakukan aksi itu malam hari hingga dini hari. Perencanaan pun dilakukan sebelum aksi, Selasa hingga Kamis mengamankan jalan, lalu Jumat dan Sabtu menjadi waktu eksekusi.
 
Aman menuturkan, korban telah ditentukan saat hendak melakukan klithih, bukan secara acak. Jika bukan musuh geng sekolah tak akan dilukai. Kemudian, senjata telah ditempatkan di warung tempat berkumpul yang disepakati.

“Saat melakukan klithih tidak boleh mabuk karena sulit dikendalikan dan bisa merusak rencana,” ujarnya.
 
Bagi geng sekolah, tutur Aman, aksi klithih menjadi ajang menunjukan eksistensi. Tak hanya itu, tujuannya juga agar mengangkat nama geng agar disegani musuh.

Sementara itu, ada pula aturan yang membolehkan geng sekolah yang ingin berdamai. Syaratnya, menyerahkan upeti berupa uang atau minuman keras. Jika uang, akan mereka jadikan kas.
 
Kata Aman, solidaritas geng di sekolah cukup kuat. Ketika anggota geng mengalami masalah, seperi motor rusak, anggota lain akan suka rela mengumpulkan uang untuk membantu.

Bahkan anggota akan dijenguk dan dipenuhi kebutuhanya ketika sampai masuk penjara. Hal itu menjadi penyulit anggota keluar dari kelompok.
 
"Ada juga anggota geng yang sengaja menanam mata-mata sekolah di tempat musuh. Tugasnya memberikan up date rute perjalananya, jadi musuh bisa menentukan lokasi mengklitih di mana yang menguntungkan," cetusnya.
 
Ia membeberkan, anggota geng di sekolah kerap didominasi siswa yang memiliki hubungan tidak harmonis dengan keluarga, seperti brokenhome. Namun, ia menyayangkan tren perkembangan geng yang melakukan klithih yang menjalar ke siswa SMP. Meskipun, ia mengakui sempat ada doktrin klithih yang dilakukan anak di bawah umur tak akan lanjut pidana.

Enam Pelaku Klitih Ditetapkan Tersangka


Kini, setelah lulus SMK, Aman yang telah berusia 21 tahun sudah lepas dari geng itu. Ia sekarang fokus pendidikannya di perguruan tingi. “Kalau dulu pernah bohong, mau ikut klithih tapi izin nonton musik, tapi itu sudah masa lalu,” katanya.

Warisan senior
 
Sandi (nama samaran), salah seorang eks angota geng SMA swasta di Kota Yogyakarta menuturkan sejumlah hal serupa. Bedanya, ia masuk ke dalam anggota geng agar disegani di kelas dan di sekolah.

Menurut Sandi, melakukan klithih di malam hari lebih berbahaya dibandingkan siang hari. Ia pun mengaku tak pernah klithih di malam hari. “Musuhnya bisa sama polisi,” kata dia.
 
Ia menambahkan, musuh geng sekolah merupakan warisan para angkatan senior. Masalah tersebut telah menjadi bahan doktrin kepada anggota baru. Geng pun diketuai oleh alumnus sekolah yang sudah lulus dan mengambil peran di balik layar.
 
Perihal tindakan klithih yang acap kali terjadi di kota pelajar, ia mengaku heran lantaran orang yang menjadi korban bukan lagi musuh geng antarsekolah. Menurutnya, klithih hanya dilakukan terhadap geng pesaing di sekolah lain. “Kalau (klithih) sekarang saya menyebut itu sudah psikopat,” ungkapnya.


(SAN)