Menapak Jejak Pujangga Rakyat di Radya Pustaka

Pythag Kurniati    •    Senin, 17 Oct 2016 16:18 WIB
sastra
Menapak Jejak Pujangga Rakyat di Radya Pustaka
Naskah tulisan dan tanda tangan asli Ranggawarsita dipamerkan di Museum Radya Pustaka, Solo, Jateng. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Sak bejo-bejone wong kang lali, luwih bejo wong kang eling lan waspodo. Begitu pesan Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha.

Terjemahan bebasnya kira-kira, 'Seberuntung apapun orang lupa, lebih beruntung lagi orang yang selalu mawas dan waspada'.

Sepenggal kalimat itu senantiasa pas dikutip pada zaman mana saja. Entah tokoh agama, guru, hingga bahkan politisi terkini. Namun, tak ada jaminan mereka tahu bahwa kalimat yang mereka kutip itu ditulis 150 tahun silam.

Tak pula ada jaminan para pengutip Ranggawarsita mengenal pujangga kelahiran Yosodipura, Solo, Jawa Tengah, itu. "Banyak pengunjung yang menanyakan Ranggawarsita, termasuk naskah-naskahnya," kata Totok Yasmiran pengelola manuskrip Museum Radya Pustaka, Solo.


Pengunjung Pameran Naskah Ranggawarsita di Museum Radya Pustaka, Solo, Jateng.

Alasan itulah yang akhirnya membuat museum tertua di Indonesia itu menggelar pameran naskah Ranggawarsita. Sedikitnya sembilan naskah dihidangkan ke publik sepanjang bulan ini. Antara lain, Serat Paramasatra, Serat Kalatidha, Serat Pawarsaan, dan Serat Joko Lodhang.

Kepada Metrotvnews.com, Senin 17 Oktober, Totok menuturkan, pengunjung dapat mengenal lebih dekat sosok Ranggawarsita melalui karya-karyanya. Termasuk kebiasaan pujangga itu ketika menuliskan syair.

Misalnya, sandi asma. Pujangga kelahiran 1802 itu kerap menyisipkan inisial nama sendiri pada bait sajaknya. Bait dalam Serat Joko Lodhang di bawah ini layak jadi contoh.

Rongeh jleg tumiba
Gagaran santosa
Wartane wus teko
Sikara karudho
Tatage tan katon


“Jika setiap huruf awal digabungkan akan menjadi Ronggawarsita,” kata dia. Sandi asma ditulis, lanjutnya, lantaran sang pujangga tidak terlalu ingin mengekspos identitas dirinya.

Pujangga rakyat

Oleh Presiden Soekarno, Ranggawarsita bahkan diberi julukan pujangga rakyat. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan pidato Bung Karno saat peresmian patung Ranggawarsita di depan Radya Pustaka pada 11 November 1953.

"Dari ucapan-ucapan Ranggawarsita itu ternyata, bahwa benar-benar beliau itu pujangga rakyat. Bukan pujangga satu golongan walaupun Ranggawarsita pujangga keraton tapi beliau bukan pujangga keraton saja. Beliau adalah pujangga rakyat," demikian dikatakan Presiden Soekarno waktu itu.

Isi serat-seratnya selalu mengandung petuah-petuah hidup. Juga, mengungkapkan rasa kecewa dan kegelisahan pada kondisi negara. Bukan itu saja, pujangga bernama asli Bagus Burhan itu juga kerap menyisipkan ramalan pada kurang lebih 60 serat tulisannya.


Pengunjung Pameran Naskah Ranggawarsita di Museum Radya Pustaka, Solo, Jateng.

"Ia pernah meramalkan tahun kemerdekaan pada Serat Joko Lodhang," kata Totok.

Salah seorang pengunjung asal Manahan, Solo, Donna mengungkapkan, mengaku dapat pengalaman dan pengetahuan menarik dari pameran serat Ranggawarsita.

"Bahkan saya bisa melihat langsung tulisan tangan dan tanda tangan beliau di sini,” tutup Donna.


(SAN)