Bandara Kulon Progo di Jalur Migrasi Burung

Ekosistem Burung dan Penerbangan Terancam

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 14 Nov 2017 17:11 WIB
lingkungan
Ekosistem Burung dan Penerbangan Terancam
Segerombolan burung terlihat terbang di langit Kecamatan Temon yang menjadi lokasi pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Kulon Progo: Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta berada di jalur migrasi beragam jenis burung. Selain proyek ini telah menggeser habitat burung, penerbangan di Bandara Kulon Progo nantinya juga terancam.

Warga Desa Glagah, David Sastro, mengatakan, kawanan burung perlahan sudah mulai hilang dari Kecamatan Temon. Kawanan burung yang biasa beterbangan sudah sulit ditemukan dalam beberapa bulan terakhir.

Hal ini terjadi karena pepohonan yang jadi habitat burung sudah mulai diratakan dengan tanah. Burung trocokan, perkutut, koci, cucak jenggot, pelatuk bawang, dan srikatan yang tak lagi bisa ditemukan.

"Burung-burung jenis itu dulu banyak. Keluar sebentar itu biasanya sudah lihat banyak. Sekarang sudah hilang," kata Metrotvnews.com pada Selasa, 14 November 2017. 

Pengamat (observer) burung dari Yayasan Kutilang Indonesia, Imam Taufiqurrahman, mengatakan, tak hanya burung berhabitat di pepohonan yang hilang. Burung di sekitar pantai dekat lokasi pembangunan bandara juga sulit ditemukan. 

Imam menyebut, bergesernya habitat burung ke lokasi baru tak bisa dipastikan. "Secara umum habitat burung di Pantai Glagah ada, Pantai Congot (Desa Jangkaran) juga ada. Tapi tak sebanyak di muara Sungai Progo," ujarnya. 

Spesies yang yang tergeser oleh pembangunan bandara ini diyakini akan digantikan burung lain. Misalnya, burung kuntul, blekok sawah, dan kuntul kerbau. 

"Biasanya di dekat lintasan bandara ada padang rerumputan, di sana juga biasanya ada burung-burung yang lain. Meskipun masih perlu kajian lanjutan burung jenis apa saja," katanya. 


Pepohonan bergelimpangan di lokasi pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Foto: Metrotvnew.com/Ahmad Mustaqim


Risiko Aktivitas Penerbangan

Keberadaan bandara NYIA di jalur migrasi burung akan membahayakan aktivitas penerbangan. Sebab, wilayah Kecamatan Temon menjadi jalur migrasi berbagai macam burung tak hanya dari wilayah Yogyakarta, namun juga Indonesia dan negara lain. 

Imam mengatakan proses migrasi burung biasanya dilakukan dengan berkoloni dalam jumlah besar. Mulai dari ratusan hingga ribuan ekor burung. 

Imam menyebut, jalur migrasi burung di pesisir selatan Kulon Progo disebut jalur terbang Asia Timur Autralasia. "Ruter migrasi (burung) ini perlu diperhatikan PT Angkasa Pura I," tuturnya. 

Ada berbagai jenis burung di pesisir selatan Kulon Progo. Di Pantai Trisik yang berada di sisi timur pesisir Kulon Progo, lanjut Imam, setidaknya ada 44 jenis burung. Mulai dari burung Dara Laut Jambul, Dara Laut Kecil, Trinik Semak, dan Kedidip Putih yang diperkirakan mencapai ribuan ekor. 

"Tiap tahun burung-burung pasti ada proses migrasi. Biasanya sekurangnya 2.000 ekor burung saat migrasi," ungkapnya. 

Ia menambahkan, ledakan populasi serangga bisa magnet burung. Sebab, serangga merupakan mangsa habitat burung dan pasti akan dikunjungi. "Perlu kajian holistik untuk aktivitas penerbangan," jelasnya. 

General Managet PT Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Agus Pandu Purnama mengatakan juga mengakui akan mengamati habitat burung apa saja yang akan muncul ada di lokasi bandara NYIA. Pengamatan tersebut akan melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM). 

"Jenis burung apa saja di lingkungan bandara nanti, dan perilakunya bagaimana. Di (bandara) Adisutjipto, (keberadaan burung) memang membahayakan penerbangan. Cara mengusirnya agar tidak di bandara, masih dalam kajian," ucapnya. 


(SUR)