Aktivis Penolak Bandara Kulon Progo Disarankan Temui Raja Yogyakarta

Patricia Vicka    •    Selasa, 12 Dec 2017 11:48 WIB
infrastrukturbandara
Aktivis Penolak Bandara Kulon Progo Disarankan Temui Raja Yogyakarta
Petugas membongkar bangunan area yang digunakan untuk Bandara Internasional Kulonprogo. Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko

Yogyakarta: Proses pembangunan bandara di Kulon Progo terkendala sebelum dimulai. Sejumlah aktivis dan mahasiswa pasang badan bersama warga yang menolak pembangunan untuk menghalangi petugas yang hendak membuka lahan (land clearing).

Indonesia Audit Watch (IAW) menyarankan para aktivis dan mahasiswa penolak Bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Kulonprogo untuk menemui Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.

Ketua Pendiri IAW Junisab Akbar mengatakan, tindakan kritis mahasiswa seyogyanya diimbangi dengan pengetahuan dan informasi yang benar dari beberapa pihak. Tindakan para aktivis yang membantu para warga penolak bandara justru dapat menghambat pembangunan bandara tersebut.

"Jadi kepada mahasiswa agar berpikir kritis dan mendapat info yang tidak timpang. Tidak salah juga  aktivis dan mahasiswa itu bersilaturahmi bertanya langsung ke Gubernurnya, Sultan. Itu lazim," ujar Junisab di Yogyakarta, Senin, 11 desember 2017.

Dengan mengunjungi raja Yogyakarta ini, para aktivis dan mahasiswa bisa mendapatkan penjelasan dan informasi menyeluruh manfaat dan dampak positif NYIA. Mantan anggota DPR ini menilai langkah Angkasa Pura I membawa masalah para penolak bandara ke  jalur hukum sudah tepat. Terutama dengan mengambil langkah konsinyasi ke Pengadilan.

Pria kelahiran Sumatra Barat ini turut mengapresiasi langkah Kepolisian Kulonprogo untuk membebaskan 15 aktivis dan mahasiswa penolak bandara yang sempat ditangkap. Mereka ditangkap dan ditahan sementara di Mapolres Kulonprogo pada Selasa, 5 Desember 2017, untuk meredam provokasi.

Sementara itu Sosiolog Fisipol UGM Arie Sudjito menilai aksi pasang badan yang dilakukan para mahasiswa dan aktifis di lahan bandara tidak tepat. Hal ini malah akan menciptakan konflik baru.

"Respon mahasiswa pada isu sekeliling sekarang caranya bukan dengan kekerasan tapi dialog. Dulu bentrok itu biasa karena pemerintahannya otoriter, tapi sekarang kan demokrasi harusnya lebih pada dialog," kata mantan aktivis era orde baru ini.

Pria yang kini menjabat sebagai dosen UGM ini menyarankan mahasiswa penolak bandara untuk menempuh jalan dialog dengan Bupati, Gubernur maupun pihak Angkasa Pura (AP) I yang akan membangun New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo.


(SUR)