Karimunjawa tak Punya Tempat Pembuangan Akhir

Rhobi Shani    •    Minggu, 09 Oct 2016 16:18 WIB
karimunjawa
Karimunjawa tak Punya Tempat Pembuangan Akhir
Lahan kosong milik warga menjadi lokasi pembuangan sampah di Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jateng. (Metrotvnews.com/Rhobi Shani)

Metrotvnews.com, Jepara: Kepulauan Karimunjawa merupakan salah satu destinasi wisata andalan Jawa Tengah. Sayang, sampai saat ini wilayah terluar Kabupaten Jepara itu belum memiliki tempat pembuangan akhir (TPA). Tak pelak, sampah yang dihasilkan masyarakat maupun aktivitas pariwisata hanya ditumpuk begitu saja di lahan-lahan kosong milik warga.
 
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Jepara baru menyusun Detail Engineering Design (DED). Paling cepat, tahun depan baru bisa beroperasi. Sementara, anggaran APBD tahun ini untuk pembangunan TPA Karimunjawa dialokasi untuk pembangunan jalan menuju TPA Karimunjawa di Dukuh Alang-alang.
 
Kepala UPT TPA Bandengan, Lulut Andi Ariyanto yang juga ditugaskan membangun dan mengelola TPA Karimunjawa, menyampaikan, tahun ini DED untuk area TPA yang memiliki luas satu hektare itu sudah bisa dirampungkan. Sehingga anggaran dari pusat melalui Perencanaan Teknis dan Manajemen Persampahan (PTMP) Satker Provinsi Jateng bisa keluar awal tahun depan dan segera dibelanjakan. Khusus untuk tempat pengolahan sampah, anggaran yang diperlukan diprediksi mencapai Rp 10 miliar.
 
“Dengan luas area satu hektare bisa dibuat tiga hingga empat tempat penimbunan sampah (sel landfill),” ujar Lulut, Minggu (9/10/2016).
 
Dengan luas tersebut, Lulut melanjutkan, nantinya TPA Karimunjawa diprediksi bisa menampung sampah warga dan wisatawan Karimunjawa selama lebih dari lima tahun. Saat ini, sampah di Karimunjawa didominasi jenis plastik. Baik plastik kemasan mapun botol minuman.
 
“Tapi kami belum melakukan penghitungan detail sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga maupun hotel dan homestay,” tutur Lulut.
 
Setelah TPA siap digunakan, Lulut mengeluhkan sumber daya manusia dan sistem pengelolaan sampah nantinya. Pasalnya, dia mengaku kesulitan mencari tenaga kebersihan maupun pengangkut sampah. Sebab, mayoritas warga memilih bekerja di sektor pariwisata.
 
Mengenai sistem pengelolaan, salah satu yang menjadi perhatian lantaran lokasi TPA berdekatan dengan permukiman warga maupun hotel dan homestay. “Desain besarnya, kita buat pengelolaan sampah berbasis ekologi dan wisata pendidikan. Tujuannya agar minim bau, lalat, dan tak menimbulkan pencemaran air tanah,” pungkas Lulut.


(SAN)