PBNU Tolak Pembangunan Bandara Baru Yogyakarta

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 19 Sep 2016 09:48 WIB
bandara
PBNU Tolak Pembangunan Bandara Baru Yogyakarta
Gunungan hasil bumi ditampilkan warga yang tergabung dalam WTT, Minggu (18/9/2016). (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Kulon Progo: PBNU menyatakan penolakannya terhadap proyek pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecataman Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada dua alasan penting yang menjadi dasar penolakan PBNU terhadap proyek itu.

Ketua Bidang Kebudayaan dan Hubungan Antaragama PBNU, Imam Aziz mengatakan, alasan pertama, persiapan yang tidak matang. Ini tercermin dari adanya ratusan warga yang menolak. 

Baca: Tolak Bandara, Warga Kulon Progo Mogok Makan

Jika NYIA merupakan proyek besar, ujarnya, perencanaan yang dilakukan harus jauh-jauh waktu dan membutuhkan proses panjang. Salah satu proses penting yang harusnya matang dipersiapkan yakni memindahkan warga terdampak ke lokasi yang sesuai atau lebih baik.

"Memindahkan orang itu tidak gampang. Tidak sekadar pindah. Tapi juga ada aspek bagaimana nanti mata pencaharian, sosialnya, budaya. Berat itu," ujar Aziz kepada Metrotvnews.com di Kecamatan Temon, Minggu (18/9/2016).

Baca: Jelang Ganti Rugi Lahan Bandara, 300 Warga Kulon Progo Masih Menolak


Ketua Bidang Kebudayaan dan Hubungan Antaragama PBNU Imam Aziz. (Media Indonesia/Furqon)

Ia mengatakan, cara-cara yang dilakukan dalam proses pembangunan proyek NYIA bakal memakai model penggusuran bagi yang tak setuju. Menurut dia, cara itu semestinya sudah bukan zamannya, seperti ketika era Orde Baru dulu. Meskipun, proses hukum proyek itu sudah melalui Pengadilan Tata Usaha Negara hingga Mahkamah Agung.

"Jangan hanya (warga penolak) dianggap masalahnya semata karena uang. Jangan hanya main patok lalu (warga) harus minggir, itu cara lama. Seolah-olah kita (warga) terpaksa mendukung, padahal enggak pernah diajak bicara sampai selesai," ujarnya.

Baca: Warga Kulon Progo Rayakan Perlawanan Menolak Pembangunan Bandara

Alasan kedua, Aziz melanjutnya, yakni soal pemilihan lokasi yang jauh dari pusat kota. Ia menilai, lokasi yang jauh bakal memakan pula ongkos fisik dan sosial yang besar.

"Ini bukan arti menolak pembangunan. Tapi pembangunan harus direncanakan dengan baik sehingga tak ada yang terpaksa setuju dan jadi korban," jelasnya.

Masih menolak

Proses pembangunan proyek NYIA melewati jalan panjang oleh penolakan dari warga. Bahkan, warga yang tergabung dalam paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) yang jumlahnya sekitar 300-an masih tetap menolak dan ada pula sejumlah warga yang masih menuntut pembebasan pajak lahan.


Warga yang tergabung dalam WTT dalam ulang tahun perlawanan terhadap Bandara Kulon Progo, Minggu (18/9/2016). (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Baca: Tolak Bandara, Ratusan Warga Kulon Progo Datangi PTUN

Di sisi lain, kelanjutan proyek pembangunan bandara NYIA memasuki tahap pembayaran ganti rugi lahan melalui pemerintah desa setempat, yakni Desa Glagah, Desa Jangkaran, Desa Kebonrejo, Desa Palihan, dan Desa Sindutan. Proses itu telah mulai sejak 14 September hingga 4 Oktober.

Pembayaran uang ganti rugi itu dilakukan tiap Senin-Kamis dengan cara transfer melalui rekening masing-masing warga.


(SAN)