Keluarga Dapat Menjadi Pendeteksi Awal Gangguan Jiwa

Pythag Kurniati    •    Selasa, 18 Oct 2016 12:34 WIB
kesehatan
Keluarga Dapat Menjadi Pendeteksi Awal Gangguan Jiwa
Rehabilitan unjuk kebolehan dalam kegiatan peringatan hari kesehatan jiwa sedunia di Kota Solo, Selasa (18/10/2016). (foto: MTVN/Pythag)

Metrotvnews.com, Solo: Keluarga dan masyarakat berperan penting pada pertolongan pertama gangguan mental dan psikologis. Demikian dikatakan Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Masyarakat RSJD dr. Arif Zainudin Kota Solo, Maria Rini Indriatni.

"Orang-orang terdekat dapat menjadi pendeteksi awal gangguan jiwa," ujarnya, saat di RSJD dr. Arif Zainudin Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (18/10/2016).

Menurut Maria, kesehatan jiwa kerap dipandang sebelah mata. Sehingga, banyak kasus kesehatan jiwa tak terkelola dengan baik. Akibatnya, terjadi pembiayaan tinggi dan produktifitas yang turun. Padahal, dapat dideteksi sejak awal.

Maria menerangkan tak sedikit pasien gangguan jiwa yang dipulankan ke keluarga harus menjalani terapi kembali di RSJD. "Keluarga dan masyarakat masih banyak memarjinalkan mereka," katanya.

Terapi yang dilakukan di RSJD pun, ujar dia, seringkali tidak dapat dilanjutkan di rumah. Hal tersebut dipengaruhi oleh kesibukan keluarga, pengetahuan yang minim serta rasa malu dan jenuh masyarakat. Hal itu menjadi pemicu tekanan bagi rehabilitan.

Salah satu terapi yang bisa dilakukan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien adalah memberikan ruang kepada pasien untuk berekspresi.

"Ini bagian terapi proses membangun kepercayaan diri. Menyanyi, menari, berolahraga dan vokasional. Misalnya mengajarkan bagaimana membuat sapu dan telur asin," jelasnya.

Saat ini sebanyak 310 rehabilitan gangguan jiwa menjalani rawat inap di RSJD. Sedangkan berdasarkan data seluruh Puskesmas di Solo jumlah penderita gangguan jiwa hingga bulan Agustus tahun 2016 mencapai 2.095 orang.

Rinciannya sebanyak 760 orang mengalami gangguan jiwa berat dan 1.335 orang menderita gangguan jiwa ringan.


(MEL)