Bandara Kulonprogo Berlokasi di Area Rawan Bencana

Patricia Vicka    •    Minggu, 27 Nov 2016 13:05 WIB
bandara
Bandara Kulonprogo Berlokasi di Area Rawan Bencana
Maket Bandara Kulonprogo, istimewa

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Area Bandara Kulonprogo berlokasi di daerah rawan bencana. Sebab bandara tersebut berlokasi hanya beberapa kilometer dari pantai selatan yang rawan bencana.

Demikian disampaikan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi (BMKG) DI Yogyakarta Nyoman Sukanta. Sukanta mengatakan seluruh wilayah di sepanjang pantai laut selatan DIY berpotensi gempa dan tsunami. Sebab lokasinya berada di pertemuan tiga lempeng dunia.

"Tiga lempeng itu yaitu Pasifik, Euroasia, dan Indoaustralia. Jadi jangan kaget kalau wilayah selatan berpotensi gempa dan tsunami," kata Sukanta seperti yang ditulis Metrotvnews.com, Minggu (27/11/2016).

Selain itu, tambahnya, wilayah selatan berada di lempeng suduksi. Artinya lempeng yang masuk dalam lempengan lain. Sehingga getaran terjadi akibat pergeseran lempeng.

Daerah di sekitar lempengan datar. Bila terjadi tsunami, dampaknya menjangkau 2 hingga 3 Km. Tapi kalau daerahnya berbukit, jangkauan tsunami bakal lebih kecil.

"Namun gempa yang terjadi tak selalu menimbulkan tsunami. Hanya gempa yang besar, kuat, dan dalam waktu lama," lanjut Sukanta.

Pemerintah DIY kini meminta bantuan BMKG menyusun dokumen analisis dampak lingkungan (amdal). Selain arah angin, BMKG juga meneliti jangkauan tsunami, dampak gempa, dan solusi.

Soal arah angin, ungkap Sukanta, BMKG mengkaji arah angin dominan. Sehingga landasan dibangun sesuai arah angin. 

Lalu, kajian itu disimulasikan dengan tsunami yag mengarah ke bandara. Tim juga memantau patahan lokal yang berisiko gempa.

"Kita kaji juga karakteristik tanah. Sehingga saat dokumen amdal jadi, ada keputusan layak atau tidak bandara dibangun disana," jelasnya.

Ia melanjutkan, dampak negatif tsunami dan gempa bisa dikurangi dengan membuat tanggul penahan atau gundukan pasir. Cara lain yaitu membuat bangunan dengan rongga di bawah.

Cara itu dilakukan Jepang dengan membangun tanggul beton setinggi 10 meter. Sehingga, cara itu dapat mengurangi efek tsunami.

BMKG mencatat 453 guncangan gempa terjadi di DIY. Catatan itu dikumpulkan mulai 2006 hingga 2016.


(RRN)