Ojek Online Dilarang Mangkal di UGM

Patricia Vicka    •    Selasa, 05 Sep 2017 19:54 WIB
ojek online
Ojek Online Dilarang Mangkal di UGM
Spanduk larangan ojek online di kampus UGM. MTVN/Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Ojek daring dilarang mangkal di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Sebuah spanduk besar bertuliskan “Semua Jenis Ojek Online Dilarang Mangkal di Wilayah Kampus UGM” terpampang di pagar sisi Timur Fakultas Hukum UGM. Imbauan itu juga tampak di beberapa pinggir jalan kawasan UGM lainnya sejak Senin 4 September 2017.
 
Kepala Pusat Keamanan, Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (PK4L) UGM, Noorhadi Rahardjo mengatakan, larangan bertujuan menertibkan para pengendara ojek online. Pasalnya pengemudi kerap berhenti sembarangan dan memenuhi sisi-sisi jalan. Hal itu menghambat lalu lintas pengguna jalan lainnya.

“Ojek online banyak yang parkir di pinggir jalan. Sehingga jalan untuk lalu lintas kendaraan menjadi lebih sempit. Kami sudah beberapa kali mendapat keluhan ini,” ujar Noorhadi melalui keterangan pers, Selasa 5 September 2017.

Selain itu beberapa ojek online kerap melanggar petunjuk arah sehingga mengancam keselamatan pengendara di lingkungan UGM. Misalnya beberapa dari mereka kerap melawan arus dengan alasan buru-buru hendak mengantar pesanan.
 
Pihaknya sudah berkali-klai menegur pengemudi ojek online untuk tertib lalu lintas. Bahkan pihak kampus pernah mendatangi perusahaan aplikasi penyedian ojek online. Sayangnya pelanggaran masih kerap terjadi.

Meski begitu, ojek online masih tetap boleh masuk ke UGM asalkan mematuhi petunjuk arah dan tidak mangkal terlalu lama. Sebab keberadaan ojek online amat dibutuhkan para mahasiswa, pegawai dan seluruh civitas akademika UGM.

“Bukan berarti tidak boleh masuk. Kalau untuk mengantar dan menjemput penumpang ya silahkan saja, tapi berhenti seperlunya. Kalau sampai ada puluhan yang parkir di sepanjang jalan jadi mengganggu yang lain,” ujarnya.

Spanduk perintah ini jelas membuat beberapa mahasiswa dan pegawai UGM kecewa. Sebab keberadaan ojek online sangat dibutuhkan mereka seperti untuk mengantar jemput makanan dan pesanan mereka.

Astri Wulandari salah satu civitas akademika UGM yang biasa menggunakan ojek online merasa kesulitan dengan adanya larangan ini. Ia biasa memesan makanan dan menggunakan jasa jemputan ojek online. “Semoga peraturan ini ditinjau ulang lagi. Kalau perlu dibatalkan,” katanya.

Kekecewaan juga diungkapkan oleh salah seorang mahasiswi, Irene Astuti. Keberadaan ojek online sangat berguna bagi mobilitas dirinya yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Ia berharap agar UGM mencabut larangan tersebut. Karena sejak adanya larangan itu, tukang ojek online enggan masuk ke wilayah UGM sehingga Iren harus berjalan jauh ke pintu keluar kampus UGM.

Pantauan Metrotvnews.com walaupun ada larangan ini, sejumlah tukang ojek daring masih masuk ke dalam kampu UGM. Rully, salah seorang pengemudi ojek online mengatakan, tak tahu adanya aturan larangan mangkal tersebut. "Saya enggak tahu. Kesini hanya antar makanan saja," katanya singkat.


(ALB)