PMI Akui Tak Semua Daerah Punya Unit Transfusi Darah

Pythag Kurniati    •    Sabtu, 17 Sep 2016 18:15 WIB
pmi
PMI Akui Tak Semua Daerah Punya Unit Transfusi Darah
Pelaksana Harian Ketua PMI Pusat Ginandjar Kartasasmita saat menandatangani prasasti sekaligus meresmikan Akademi Bank Darah di Kota Solo, MTVN - Pythag Kurniati

Metrotvnews.com, Solo: Hampir setengah dari seluruh kabupaten dan kota di Indonesia belum memiliki Unit Transfusi Darah (UTD). Pernyataan tersebut mengemuka dalam acara peringatan hari ulang tahun ke-71 Palang Merah Indonesia di Kota Solo, Jawa Tengah.

Pelaksana Harian Ketua Umun PMI Pusat Ginandjar Kartasasmita mengungkapkan Indonesia memiliki sekitar 500 kabupaten dan kota. "Baru 212 yang memiliki Unit Transfusi Darah. Bahkan belum ada setengahnya," urai Ginandjar, Sabtu (17/09/2016).

Padahal idealnya setiap kabupaten dan kota memiliki UTD untuk ketersediaan darah masing-masing daerah. "Namun untuk membentuk UTD selain diperlukan peralatan juga diperlukan Sumber Daya Manusia ahli. Ini yang masih menjadi tantangan kita," papar dia.

Ginandjar menerangkan dari 212 Unit Transfusi Darah di Indonesia, baru enam daerah yang memenuhi syarat Good Manufacturing Practices for Pharmaceutical Products (GMP). Enam daerah tersebut antara lain Semarang, Solo, Purwokerto, Jakarta, Surabaya dan Medan.

Keberadaan UTD menjadi penting lantaran berdasarkan data PMI Pusat setiap tahun Indonesia harus mampu memenuhi ketersediaan darah sejumlah 5 juta kantong. Sedangkan saat ini baru terpenuhi 4,7 juta kantong per tahun.

Belum terpenuhinya jumlah kantong darah dibarengi dengan kurang meratanya ketersediaan darah lantaran minimnya UTD. "Masih ada yang persebaran ketersediaannya belum merata. Terutama di luar Jawa dan di Indonesia timur" kata Ginandjar.

Mengenai kekurangan tenaga kerja ahli transfusi darah, lanjut dia, Indonesia telah memiliki empat akademi bank darah yakni di Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Solo. 

"Akademi ini akan mulai mencetak tenaga ahli transfusi darah setingkat D3 untuk memenuhi kekurangan SDM ahli di Indonesia," tutupnya.


(RRN)