Nelayan Yogyakarta Pilih Jaring Ketimbang Cantrang

Patricia Vicka    •    Rabu, 10 Jan 2018 16:04 WIB
cantrang
Nelayan Yogyakarta Pilih Jaring Ketimbang Cantrang
Ilustrasi nelayan. Foto: Antara/Ampesa

Yogyakarta: Pelarangan pemakaian cantrang untuk menangkap ikan tidak menimbulkan protes dari para nelayan di pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedari dulu, nelayan di Kabupaten Gunungkidul, Bantul, dan Kulonprogo enggan menggunakan cantrang.

Karmanto, salah seorang nelayan di Pantai Depok, Bantul, mengatakan seluruh nelayan di Bantul menolak menggunakan cantrang. Mereka lebih memilih alat tangkap tradisional seperti jaring, gillnet, dan pancing.

"Dari dulu memang enggak pakai cantrang. Kami pakai jaring besar dan kecil. Kadang pakai alat pancing kayu untuk menangkap keong atau hasil laut,” ujar Karmanto melalui sambungan telepon di Yogyakarta, Rabu, 10 Januari 2018.

Ia menjelaskan cantrang tidak cocok dipakai di laut selatan Yogyakarta karena merupakan wilayah laut dalam. Menurutnya cantrang hanya cocok dipakai di lautan dangkal seperti di laut pantai utara Pulau Jawa.

Sehari-hari, seluruh nelayan di Depok menjaring ikan dengan menggunakan kapal kayu tradisional yang dikayuh atau motor tempel. “Kami biasa tangkap ikan pakai jaring lebar 2-5 meter,” terang pria yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Nelayan Depok, Bantul, ini.

(Baca: Pelarangan Cantrang Sudah Final)

Senada, nelayan dari pantai Ngandong Gunungkidul, Rujimantoro, menyambut baik pelarangan cantrang dalam aktivitas penangkapan ikan. Sejak dulu seluruh nelayan di Kabupaten Gunungkidul tidak ada yang memakai cantrang untuk mengambil ikan. Mereka memilih menggunakan jaring lebar yang ditebar di lautan atau pancing untuk mengambil hasil laut.

Cantrang tidak diminati nelayan di Gunungkidul karena hanya bisa dipakai di kapal besar yang memiliki berat mencapai belasan gross ton. Sementara kondisi pesisir Gunungkidul tidak memungkinkan kapal besar mendarat. Sehingga nelayan menggunakan kapal kayu tradisional jenis tongkang dan kapal motor tempel.

“Nelayan di Gunungkidul tidak punya modal dan belum ada yang mau modalin untuk beli kapal besar. Jadi kami hanya pakai kapal jungkang dan kapal motor saja,” katanya.

(Baca: Perajin Tali di Brebes Menganggur karena Larangan Cantrang)

Selain itu para nelayan menilai pemakaian cantrang dapat merusak ekosistem laut. Pasalnya, jaring cantrang yang ditebar dalam laut turut mengambil semua benda yang ada di dalam laut.

“Cantrang turut mengambil ikan-ikan kecil makanan ikan besar seperti ikan teri. Kalau makanannya habis, nanti ikan besar makan apa,” tutur pria yang menjabat sebagi ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul ini.

Ruji menjelaskan jaring yang dipakai menangkap ikan memiliki 15-20 meter. Adapula jaring lebih kecil dengan lebar 12-15 meter. Dalam musim panen, para nelayan bisa mendapatkan 40-50 ton ikan semingu. Namun jika musim sepi, nelayan harus puas dengan tangkapan 10-15 ton ikan per minggu. Biasanya nelayan menangkap ikan jenis tuna, cakalang, tongkol, bawal, teropong, dan tompen.

Saat ini tercatat ada 1.200 orang nelayan di Gunungkidul. Sebagian besar nelayan mencari ikan di pantai Sadeng, Pantai Baron, dan Ngerenean.


(SUR)