Buku IPS Kontroversial Terbitan Yudhistira Dilarang Beredar di Solo

Pythag Kurniati    •    Rabu, 13 Dec 2017 13:50 WIB
pendidikan
Buku IPS Kontroversial Terbitan Yudhistira Dilarang Beredar di Solo
Kepala Dinas Pendidikan Etty Retnowati menunjukkan surat edaran pada kepala sekolah SD negeri dan swasta di Solo. Foto: Medcom.id/Pythag Kurniati

Solo: Pemerintah Kota Surakarta melarang penggunaan Buku IPS Terpadu Jilid 6A terbitan Yudhistira di sekolah-sekolah. Larangan dikeluarkan menindaklanjuti protes kalangan masyarakat di Kota Solo terhadap buku karangan Budi Hartawan tersebut.

Dinas Pendidikan Kota Surakarta pun mengeluarkan Surat Edaran bersifat sangat segera untuk melarang buku pelajaran ini dipakai. Surat bernomor 421/4436/set/2017 dikeluarkan di Surakarta tanggal 13 Desember 2017. Surat ini ditujukan pada Kepala SD negeri dan swasta se-Kota Surakarta.

"Surat berisi larangan penggunaan buku tersebut di wilayah Kota Surakarta," tandas Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Etty Retnowati, di Kantor Dinas Pendidikan, Rabu, 13 Desember 2017.

Pada halaman 56 buku tersebut tersaji sebuah tabel negara-negara di Benua Asia beserta ibu kota negaranya. Pada bagian Asia Barat tertulis negara Palestina. Tepat di sampingnya, kolom ibu kota Palestina dikosongkan. Pada tabel yang sama tertulis ibu kota negara Israel adalah Yerusalem.


Buku yang menyebut Yerusalem adalah Ibu Kota Israel. Foto: Medcom.id/Pythag Kurniati

Kemudian, lanjut Etty, perintah juga ditujukan kepada seluruh SD yang terlanjur menggunakan buku itu. "Segera hentikan mulai sekarang," beber dia.

Ada pun perwakilan salah satu ormas Islam yang menggelar audiensi dengan Dinas Pendidikan menyebut kesalahan itu merupakan penyesatan sejarah. Sekjen Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Yusuf Suparno mendesak pemerintah dan penerbit segera melakukan beberapa langkah.

Selain meminta pemerintah melarang peredaran buku, Yusuf meminta pihak penerbit memberikan klarifikasi. "Permohonan maaf dari penerbit secara nasional untuk segera ditempuh," paparnya.

Buku kontroversial ini awalnya ramai dibicarakan di media sosial. Tabel yang menuliskan Yerusalem sebagai ibu kota Israel menuai kecaman. Penerbit Yudhistira belum mengeluarkan pernyataan resmi soal buku tersebut.


(SUR)