Program Rumah Pangan Lestari Tekan Kerawanan Pangan di Kulonprogo

Patricia Vicka    •    Kamis, 23 Nov 2017 21:36 WIB
pangan
Program Rumah Pangan Lestari Tekan Kerawanan Pangan di Kulonprogo
Kepala Badan Ketahan Pangan (jaket coklat) sat mengunjungi Kulonprogo, Jumat, 23 November 2017. Dok: Humas Badan Ketahanan Pangan Kementan

Yogyakarta: Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) telah berhasil menekan tingkat kerawanan pangan di wilayah di Kulonprogo. Program yang diinisiasi Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian ini dijalankan dengan memanfaatkan lahan pekarangan di tempat tinggal masyarakat.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi menyebut KRPL ini upaya pemerintah dalam mengentaskan daerah rentan rawan pangan. Terutama dengan mendorong masyarakat memproduksi pangannya sendiri.

"Melalui KRPL diharapkan asupan gizi keluarga dapat dipenuhi dengan memgoptimalkan lahan pekarangan untuk ditanami aneka sayuran sehingga nutrisi keluarga menjadi beragam bergizi seimbang dan aman" ujar Agung saat mengunjungi Desa Sidoharjo di Kulonprogo, Kamis, 23 November 2017.

Dengan meningkatnya status gizi keluarga, otomatis ketahanan pangan dan masyarakat juga semakin meningkat. Desa rentan rawan pangan perlahan tercukupi persediaan pangannya.

Salah satu contoh keberhasilan KRPL terjadi di Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo. Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Sidoharjo itu telah berhasil mengoptimalisasikan pekarangan kosong menjadi kebun yang ditanami dengan berbagai sayur mayur.

Peningkatan status tersebut juga hanya memakan waktu satu tahun usai tanah kosong dioptimalkan. "Status Desa Sidoharjo yang sebelumnya masuk dalam kategori desa rentan rawan pangan tingkat 2, saat ini status nya naik di tingkat 4," terang Agung.

Dalam kesempatan ini, BKP turut mendeklarasikan Desa Sidoharjo sebagai desa pangan organik lestari, Diharapkan ke depan apa yang telah dilakukan di desa Sidoharjo bisa gethuk tula (menular) ke desa lain nya.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Pujiwanti menceritakan ia memanfaatkan lahan kosong dengan menanam aneka sayuran bersama 20 anggota KWT. Manfaat nyata yang sudah kelompoknya rasakan,  antara lain mengurangi pengeluaran belanja membeli sayuran  dan  dapat mencukupi kebutuhan gizi keluarga.

"Dengan adanya kegiatan ini,lahan kami menjadi lebih produktif. Hasilnya bisa dikonsumsi sendiri dan bisa kami jual. Sebulanj kami dapat keuntungan sebesar Rp 500ribu"ujarnya.

Kini KWT turut memelihara lele dan ayam serta membuat 40 jenis produk olahan makanan. Produk ini sudah dijual di toko berjejaring Tomira.


(SUR)